FRONT-OF PACK NUTRITION LABELLING: Pembelajaran dari Implementasi di Berbagai Negara

 

Oleh Angeline Arifin MSc student University of Melbourne & Cynthia Andriani PhD Cand.
University of Auckland

Memasuki 2026, kebutuhan akan informasi gizi yang lebih jelas dan mudah dipahami menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tantangan kesehatan masyarakat. Front-of-Pack Nutrition Labelling (FOPNL) menawarkan peluang strategis untuk menjawab kebutuhan tersebut. Dengan menyajikan informasi gizi secara ringkas di bagian depan kemasan, FOPNL membantu konsumen membandingkan produk dengan cepat dan membuat pilihan yang lebih menyehatkan.

Ada berbagai jenis sistem FOPNL yang digunakan di seluruh dunia, di antaranya sistem penilaian seperti Health Star Rating di Australia dan Selandia Baru serta Nutri-Score di Eropa, label berwarna seperti Traffic Light System di Inggris, label peringatan seperti label tinggi gula atau natrium di Chile dan Meksiko, serta logo Healthier Choice Symbol di Singapura.

Implementasi FOPNL ini memiliki peranan penting dalam mengatasi permasalahan gizi dengan membantu konsumen mengidentifikasi produk sesuai dengan kebutuhannya. Dengan penyajian informasi yang mudah dibaca di bagian depan kemasan, konsumen dapat membuat pilihan yang lebih baik, sehingga dapat mengurangi risiko obesitas dan penyakit terkait pola konsumsi yang buruk. Selain itu, sistem FOPNL ini juga mendorong reformulasi produk pangan, meningkatkan kualitas gizi produk agar memenuhi batasan profil gizi yang lebih menyehatkan. Berbagai negara telah mengembangkan dan menerapkan sistem Front-of-Pack Nutrition Labelling (FOPNL) dengan pendekatan yang berbeda-beda sesuai konteks regulasi, karakteristik konsumsi, serta tujuan kesehatan masyarakat masing-masing. Dengan meninjau penerapan FOPNL di berbagai negara (Tabel), dapat diperoleh referensi yang bermanfaat bagi upaya pengembang sistem pelabelan gizi di Indonesia.

Sistem FOPNL di berbagai negara Singapura
Elemen utama dari sistem pelabelan pangan di Singapura mencakup: label Nutri Grade, Healthy Choice Symbol (HCS), informasi nilai gizi, klaim kesehatan dan gizi, dan informasi alergen. Di antara kelima elemen tersebut, HCS merupakan sistem FOPNL sukarela atau voluntary di bawah otoritas Health Promotion Board (HPB). Logo HCS diberikan pada produk yang dinilai lebih menyehatkan  dibandingkan pilihan lainnya, mencakup: tinggi gandum utuh, bebas lemak trans, rendah lemak jenuh, tinggi kalsium, rendah gula, rendah garam, dan tanpa gula atau garam tambahan. Logo HCS telah diterapkan pada lebih dari 100 kategori pangan. Healthy Dining (HD) adalah ekspansi sistem HCS terhadap sektor jasa boga seperti restoran dan kedai makanan.

FOPNL yang bersifat wajib di Singapura yaitu sistem Nutri Grade yang berlaku sejak akhir tahun 2022 dan difokuskan terhadap produk minuman. Sistem ini ditujukan supaya konsumen dapat mengidentifikasi mutu gizi produk berdasarkan kandungan gula dan lemak jenuh. Produk minuman tersebut mencakup minuman kemasan siap minum (ready-to-drink), minuman bubuk atau konsentrat, minuman dari dispenser, dan minuman yang disiapkan di tempat. Terdapat lima kategorisasi produk berdasarkan sistem Nutri Grade (A-D), di mana grade A merupakan produk minuman dengan kandungan gula dan lemak jenuh yang paling rendah. Produk dengan grade A dan B memenuhi syarat untuk mendapatkan logo HCS, sementara produk grade C dan D wajib untuk mencantumkan label nilai Nutri Grade.

Sistem FOPNL Healthier Choice Symbol (HCS) dan Nutri Grade di Singapura ini secara sinergis dapat mempromosikan pilihan produk pangan yang lebih menyehatkan. HCS membantu konsumen mengidentifikasi berbagai kategori produk pangan olahan termasuk food service yang lebih menyehatkan, sementara Nutri Grade berfokus pada minuman khususnya kandungan gula dan lemak jenuh. Kedua sistem FOPNL ini mempengaruhi perilaku konsumen untuk membuat pilihan yang lebih menyehatkan melalui indikator kualitas gizi yang jelas. Selain itu, sistem pelabelan ini mendukung terciptanya lingkungan yang sadar kesehatan, mendorong perubahan dalam industri, dan mempromosikan peningkatan kesehatan masyarakat jangka panjang di Singapura.

Jepang
Hingga saat ini, inisiasi penerapan FOPNL di Jepang masih dalam pertimbangan oleh Consumer Affairs Agency (CAA). Sementara itu, sistem pelabelan pangan yang berlaku di Jepang mencakup elemen utama berikut: label informasi zat gizi, informasi alergen, klaim nilai fungsional (Food with  Functional Claims/FCC), klaim manfaat kesehatan produk (Food for Specified Health Uses/ FOSHU), informasi asal usul ingridien, serta tanggal kedaluwarsa. Baik FCC dan FOSHU, keduanya memerlukan bukti pendukung ilmiah dan persetujuan berdasarkan evaluasi oleh CAA Jepang. Menariknya, elemen- elemen substansial tersebut umumnya diletakkan pada bagian belakang kemasan sehingga tidak mudah untuk dilihat oleh konsumen. Sebuah studi konsumen di Jepang oleh Wakui et al. (2023) melaporkan bahwa model pelabelan pangan yang berlaku saat ini menyebabkan banyak konsumen di Jepang sulit membuat keputusan berdasarkan kandungan gizi produk pangan.

Beberapa alternatif strategi penerapan sistem FOPNL di Jepang yaitu dengan menampilkan informasi nilai gizi produk makan pada bagian depan kemasan pangan serta penerapan sistem pelabelan Traffic Light Front (TLF). Hal ini didukung oleh data studi konsumen di Jepang yang menunjukkan preferensi responden terhadap sistem TLF atau pelabelan gizi berwarna pada kemasan. Sistem TLF sendiri telah diterapkan di Inggris yaitu dengan menggunakan warna indikator merah, kuning, dan hijau untuk menunjukkan kandungan lemak, lemak jenuh, gula, dan garam dalam produk. Warna hijau menunjukkan kandungan rendah, sedangkan kuning dan merah menunjukkan kandungan sedang dan tinggi. Penggunaan label TLF sebagai alat evaluasi produk ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran konsumen terhadap komponen gizi serta mendorong pola makan yang lebih menyehatkan.

Australia dan Selandia Baru
Health Star Rating (HSR), informasi nilai gizi dan alergen, klaim kesehatan dan gizi, informasi asal usul ingridien, dan tanggal kedaluwarsa merupakan elemen utama dari sistem pelabelan pangan yang berlaku di Australia dan Selandia Baru. HSR merupakan sistem FOPNL yang bersifat sukarela dan dikelola oleh Food Standards Australia dan New Zealand (FSANZ) sejak tahun 2014 berdasarkan evaluasi profil gizi produk pangan olahan. Produk pangan yang tinggi energi, lemak jenuh, gula, dan natrium mendapatkan skor lebih rendah, sedangkan produk yang kaya protein, serat, buah, sayur, dan kacang- kacangan mendapat skor lebih tinggi. Hasil akhir dari evaluasi profil gizi tersebut akan dikonversi menjadi peringkat bintang (0,5 - 5 bintang) untuk menunjukkan seberapa sehat suatu produk. Kalkulator HSR dan panduan industri dapat diakses melalui situs resmi Health Star Rating System.

Hingga saat ini, penerapan sistem HSR masih belum merata. Produk yang memiliki peringkat lebih tinggi cenderung menampilkan HSR dibandingkan dengan produk berperingkat rendah dengan tingkat adopsi HSR masing-masing 90% dan 5% (Keaney et al., 2024). Hal ini menunjukkan adanya ketidakinginan produsen untuk mencantumkan peringkat HSR jika produknya memiliki peringkat rendah. Dampak dari selektivitas sistem HSR oleh produsen yaitu menurunnya efektivitas HSR sebagai acuan objektif masyarakat dalam mengenali pilihan produk yang lebih menyehatkan. Selain itu, HSR bisa mengalami malfungsi sebagai alat pemasaran saja jika hanya produk sehat saja yang berani menunjukkan peringkat, sementara produk kurang menyehatkan lebih sulit teridentifikasi.

Beberapa industri juga menilai regulasi ini masih kurang jelas dan memerlukan sosialisasi lebih lanjut. Meski demikian, upaya perbaikan terus dilakukan, termasuk wacana penerapan Nutri-Level Traffic Light System Labelling untuk pangan olahan guna meningkatkan efektivitas FOPNL. Hampir mirip dengan sistem Nutri Grade di Singapura, Nutri-level ini terdiri dari level A (hijau tua), B (hijau muda), C (kuning), dan D (merah) yang merepresentasikan tinggi rendahnya kandungan sodium, lemak, dan gula dalam produk olahan pangan. Implementasi Nutri-level ini direncanakan untuk dilakukan secara bertahap dimulai dari kategori minuman dalam kemasan, serta beriringan dengan kedua program FOPNL yang sudah ada.

Penutup
Perbandingan sistem FOPNL menunjukkan bahwa sistem seperti label Traffic Light, Star Rating, atau Nutri-Score memiliki efektivitas yang bervariasi dalam mempengaruhi pilihan konsumen. Format yang jelas, sederhana, dan menggunakan kode warna cenderung lebih efektif dalam memandu konsumen untuk memilih produk yang lebih menyehatkan. Sistem yang diwajibkan oleh pemerintah memastikan konsistensi dan penerapan yang lebih luas, sementara partisipasi sukarela (opsional) seringkali menghasilkan implementasi yang tidak merata, yang dapat mengurangi dampak keseluruhan. Selain itu, penting untuk meningkatkan edukasi konsumen dalam memahami cara membaca label dengan benar, sehingga informasi gizi yang disajikan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Tren masa depan FOPNL juga mengarah pada pemanfaatan inovasi digital, seperti penggunaan kode QR yang menghubungkan konsumen dengan informasi gizi yang lebih rinci, transparan, dan mudah diperbarui. Di samping itu, diperlukan kebijakan yang lebih ketat terhadap klaim kesehatan yang menyesatkan, agar konsumen memperoleh informasi yang akurat dan dapat dipercaya.

Pada akhirnya, akses dan penerapan FOPNL yang lebih jelas, konsisten, dan mudah dipahami akan mendorong konsumen membuat keputusan yang lebih bijak sesuai dengan kebutuhan kesehatannya.

Referensi:
Wakui, et al. (2023). Effectiveness of Displaying Traffic Light Food Labels on the Front of Food Packages in Japanese University Students: A Randomized Controlled Trial. International journal of environmental research and public health, 20(3), 1806.

Keaney, et al. (2024). Selective industry adoption of a voluntary front-of-pack nutrition label results in low and skewed uptake: 10-year results for the Health Star Rating. Eur J Clin Nutr 78, 916–918.

 

 


Artikel Lainnya