Merancang Ulang Cita Rasa dan Warna Pangan: Kerangka Inovasi Sensori Masa Depan

 

Oleh Abdullah Muzi Marpaung
Food Technology Department Swiss German University, Indonesia

Lahirnya perisa dan pewarna sintetis pada abad ke-19—dimulai dari perisa permen (1851) hingga vanilin (1874) dan pewarna mauveine (1856)—menjadi titik balik bagi industri. Penemuan ratusan bahan artifisial ini hadir sebagai solusi yang lebih ekonomis dan stabil untuk mengoptimalkan aspek organoleptik pangan, melampaui keterbatasan yang selama ini dimiliki oleh bahan-bahan aditif alami.

Bahan tambahan pangan dari sumber artifisial tersebut berkontribusi besar dalam perkembangan pasar produk pangan yang sekarang telah mencapai lebih dari 10 triliun dolar AS per tahun Akan tetapi, sebagian dari solusi tersebut berubah menjadi persoalan. Sejumlah aditif sintetis ternyata berdampak buruk bagi kesehatan. Mauveine dilarang sejak akhir abad ke-19, coumarin dilarang pada tahun 1954, dan pada periode 1906–1950 banyak pewarna sintetis dilarang untuk pangan. Pada tahun 70-an muncul laporan yang menyebutkan penggunaan pewarna sintetis dan pengawet dapat memperburuk gejala hiperaktivitas pada anak. Studi buta ganda (double‑blind) di The Lancet (2007) mengungkapkan bahwa gabungan pewarna sintetis dan pengawet memperburuk hiperaktivitas anak usia 3 dan 8–9 tahun, baik yang terdiagnosis maupun tidak. Selama abad ke‑21, pelarangan aditif yang sebelumnya diperbolehkan terus berlanjut. Terbaru, FDA di tahun 2025 mencabut izin Red No. 3 untuk pangan dan mengumumkan rencana pencabutan bertahap bagi pewarna berbasis minyak bumi.

 

Pada saat yang sama, tiga komponen utama penyusun cita rasa, yakni gula, garam, dan lemak ikut mengalami revisi makna. World Health Organization (WHO) menekankan pembatasan konsumsi gula bebas, natrium, serta lemak tertentu. Bahkan pemanis nongula, yang dahulu dianggap jalan keluar praktis, kini tidak lagi dipandang sebagai jawaban universal.

Konstelasi persoalan diperumit oleh spektrum permintaan konsumen yang jauh melebar dan volatil belakangan ini. Preferensi mereka cenderung bergeser ke produk yang dianggap lebih kompatibel untuk tubuh dan transparan: berlabel pendek, mudah dipahami, dan sedapat mungkin berisikan ingridien yang tak asing bagi masyarakat awam.

Dari bahan tambahan ke arsitektur pengalaman
Pengalaman makan dimulai sebelum makanan menyentuh lidah. Warna memberi kesan awal, aroma menyusul, lalu rasa membawa kepada kesimpulan. Dalam hitungan detik, keputusan terbentuk: diterima atau ditolak. Di masa lalu, perisa dan pewarna digunakan untuk menutup kekurangan dan menjaga konsistensi. Rasa yang melemah diganti, warna yang pudar diperbaiki, dan setiap produk dibuat seragam. Targetnya jelas: intensitas. Kini, pendekatan itu bergeser. Perisa digunakan untuk mengarahkan persepsi, sementara pewarna membangun ekspektasi sejak awal pengalaman. Akan tetapi, terjadi kontradiksi di sini. Ketika pengalaman menjadi perhatian, bagaimana mempertahankan pengalaman itu jika komponen utamanya justru perlu dikurangi?

Modulasi rasa
Reformulasi menjadi tantangan utama industri modern. Gula, garam, dan lemak perlu ditekan. Akan tetapi, bayaran sensorinya tidaklah kecil: kelezatan makanan menurun. Konsumen terlanjur menyukai rasa manis. Kurang manis dengan cepat dirasakan sebagai gangguan. Pendekatan lama, yaitu sekadar menambahkan pemanis intensitas tinggi belum atau bahkan tidak menghasilkan arsitektur cita rasa yang memuaskan. Selain tidak berkontribusi terhadap kepenuhan rasa (body), pemanis ini juga meninggalkan rasa-ikutan pahit dan metalik yang mengganggu. Jawaban yang lebih menjanjikan tampaknya ada pada penataan cara indera mengecap. Penambahan modulator rasa alami, seperti fraksi tertentu dari ekstrak tebu, dan pengaturan profil aroma (vanilin, karamel, kesan buah - fruity notes) berhasil membuat panelis melaporkan produk ‘lebih manis’ meskipun kadar gula tidak berubah secara signifikan. Pendekatan serupa digunakan ketika protein, serat, atau ekstrak botanikal ditambahkan. Keseimbangan pahit– manis–asam diatur kembali melalui kombinasi penyamaran rasa (masking), penguatan sensasi manis, dan pelapisan cita rasa (layering flavor) sehingga versi yang lebih “ringan” tetap terasa utuh di lidah.

Pendekatan modulasi serupa juga berkembang untuk rasa asin.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 5

Artikel Terkait