Susu Kambing: Karakteristik & Fungsionalitasnya

 

Oleh Antonia Nani Cahyanti
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Semarang
dan Anang M. Legowo
Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro

Saat ini, tren konsumsi susu kambing kian marak. Hal ini didorong oleh beberapa faktor, di antaranya kemudahan pencernaan, tidak menimbulkan reaksi alergi, dan dapat digunakan sebagai pelengkap diet bagi kalangan yang memiliki kebutuhan zat gizi khusus. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat pasca pandemi Covid-19 turut memperkuat tren ini. Susu kambing dapat dikonsumsi dalam bentuk susu pasteurisasi maupun olahannya seperti yoghurt, kefir, dan keju.


Zat gizi dan karakteristik susu kambing Komposisi dasar zat gizi susu kambing mirip dengan susu sapi, yaitu mengandung lemak dan protein yang tidak jauh berbeda jumlahnya. Demikian pula dengan kandungan mineral, total bahan padat, bahkan kalori per 100g susu juga hampir sama (Tabel 1). Perbedaan keduanya adalah kandungan laktosa, karakteristik protein dan lemak, serta tingkat mineral dan vitamin. Dibandingkan dengan air susu ibu, kandungan laktosa, protein dan mineral di antara keduanya terlihat cukup signifikan. Perbedaan ini berdampak pada nilai fungsionalitas, efek terapeutik dan bioavailabilitas mineral dan vitamin tertentu. Menurut Park (2017), susu kambing dikenal memiliki nilai kecernaan dan kapasitas buffer yang tinggi, serta alkalinitas yang berbeda dari susu sapi maupun air susu ibu. Karaktersitik lemak yang khas pada susu kambing menjadikannya memiliki flavor dan kenampakan yang unik dibandingkan jenis susu yang lain. Kita sering mendengarnya sebagai “goaty flavour” dan melihatnya sebagai susu dengan sifat “creamy” yang lebih rendah.

Karbohidrat pada susu kambing
Karbohidrat utama pada susu kambing adalah laktosa, gula susu yang merupakan disakarida disusun dari molekul glukosa dan galaktosa. Laktosa merupakan zat gizi penting karena mendukung penyerapan kalsium, magnesium dan fosfor di usus. Laktosa susu kambing lebih rendah 0,2% hingga 0,5% dari susu sapi. Rendahnya kandungan laktosa menyebabkan susu kambing lebih mudah diserap oleh sistem pencernaan manusia dibandingkan dengan susu sapi. Sehingga susu kambing dapat membantu bagi penderita intoleransi laktosa (lactose intolerance), di mana mereka tidak cukup memiliki laktase, enzim yang bertanggung jawab mencerna laktosa. Laktosa yang tidak dicerna (unhydrolyzed lactose) ini masuk ke dalam usus besar, difermentasi oleh mikroba dan menghasilkan asam lemak bebas serta gas yang menyebabkan kembung, kram perut dan gejala gastrointestinal lainnya.

Protein pada susu kambin
Sejumlah 3,5% protein susu kambing terdiri atas 80% kasein dan 20% whey. Kasein susu terdiri atas fraksi a-kasein (as1-CN, as2-CN), β-kasein (β-CN) dan k-kasein (k-CN). Profil kasein susu kambing berbeda dengan susu sapi. β-CN merupakan komponen utama kasein susu kambing (54,8% total kasein), sedangkan a-CN (50% total kasein) sebagai komponen utama susu sapi. Hal lain yang membedakan adalah as1-CN yang lebih rendah dan as2-CN yang lebih tinggi daripada susu sapi. Merupakan suatu keuntungan bagi beberapa penderita yang alergi protein susu sapi karena lebih banyak mengandung as1-CN (Navamniraj et al., 2023), untuk mengonsumsi susu kambing agar terpenuhi kebutuhan zat gizi hariannya. Proporsi k-CN diketahui lebih tinggi di susu kambing dibandingkan dengan susu sapi. Namun demikian, total kasein susu kambing relatif sedikit lebih rendah (2,11 g/100ml) daripada susu sapi (2.70 g/100ml).

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 5

Artikel Terkait