Teknologi Bersih untuk Pengawetan Pangan Berkelanjutan


Oleh Eko Hari Purnomo
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB University

Pengawetan pangan merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan. Di Indonesia, kerusakan pascapanen dan kehilangan pangan (food loss and waste) masih menjadi tantangan utama. Dalam konteks inilah teknologi pengawetan—baik termal maupun nontermal—berperan sebagai teknologi bersih yang dapat menekan kehilangan pangan, memperpanjang umur simpan, dan menjaga mutu produk, sekaligus mendukung sistem pangan yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.

Teknologi pengawetan pangan secara fisik—baik melalui pendekatan termal maupun non- termal—memiliki peran strategis dalam menjaga kestabilan, keterjangkauan, dan keberlanjutan sistem pangan nasional. Upaya untuk menekan kehilangan serta meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya dan energi akibat kerusakan pangan dapat diklasifikasikan sebagai teknologi bersih (clean technology). Teknologi bersih merujuk pada teknologi yang dirancang untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mendukung keberlanjutan ekonomi maupun ekologi.

Pengawetan pangan tidak harus selalu dilakukan secara kimiawi—yang kerap dipandang negatif oleh sebagian konsumen karena kekhawatiran terhadap bahan tambahan. Sebagai alternatif, metode pengawetan non- kimiawi seperti pengawetan fisik kini semakin berkembang. Teknologi pengawetan fisik konvensional utamanya berbasis termal, seperti pasteurisasi, hot-filling, dan sterilisasi komersial, telah terbukti efektif. Namun, teknologi pengawetan berbasis termal sering kali menurunkan kualitas gizi dan menghadapi keterbatasan dalam menghadapi mikroba patogen yang resisten terhadap panas atau termal.

Di sinilah peran teknologi non-termal, seperti High Pressure Processing (HPP), Pulsed Electric Field (PEF), dan ozon menjadi solusi inovatif yang menjanjikan.

Teknologi termal
Proses termal merupakan salah satu teknologi pengawetan yang paling banyak diaplikasan di indusri pangan. Teknologi termal digunakan untuk proses pasteurisasi maupun sterilisasi berbagai produk pangan seperti jus, susu, produk perikanan, dan lain- lain. Dasar-dasar ilmiah pengawetan pangan dengan aplikasi energi termal telah dipahami dengan baik. Fokus utama pengembangan teknologi termal kini lebih banyak pada optimasi 28 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XX / NO. 11 / NOVEMBER 2025 proses. Optimasi ini ditujukan untuk mengurangi dampak negatif proses termal terhadap perubahan mutu produk maupun mengoptimalkan penggunaan energi panas dengan tidak mengkompromikan keamanan pangan. Optimasi proses termal juga dapat ditujukan untuk mengurangi cacat pada proses produksi yang dapat berdampak serius pada kinerja industri pangan. Inovasi di bidang pengembangan peralatan proses produksi dengan menggunakan teknologi termal juga mengalami perkembangan signifikan seperti tampak dari diadopsinya berbagai jenis retort tekanan berlebih (overpressure retort) yang memungkinkan industri pangan untuk menggunakan kemasan fleksibel dan semi fleksibel untuk produksi pangan steril komersial.

Selama beberapa dekade terakhir, teknologi pengawetan berbasis panas telah terbukti efektif dalam memastikan keamanan pangan dan mendukung pertumbuhan industri. Namun, meningkatnya permintaan konsumen terhadap produk pangan yang memiliki karakteristik fresh-like, yakni mutu sensoris dan zat gizi yang mendekati kondisi segar namun tetap Current Status Current Status FOOD REVIEW aman dan tahan lama, telah mendorong pengembangan teknologi pengawetan non-termal. Di antara teknologi tersebut, High Pressure Processing (HPP), Pulsed Electric Field (PEF), dan ozonasi menunjukkan potensi besar sebagai alternatif inovatif. Teknologi non-termal adalah teknologi proses pengolahan untuk memastikan keamanan pangan dan memperpanjang umur simpan pangan dengan tidak melibatkan suhu tinggi yang signifikan.

Teknologi non-termal

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait