TANTANGAN 2024: URGENSI TRANSFORMASI SISTEM PANGAN

Oleh Purwiyatno Hariyadi
Departemen Ilmu dan Teknologi PanganFakultas Teknologi Pertanian dan SEAFAST center, IPB University

 

Sektor pangan adalah pilar penting dalam ekonomi Indonesia, memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan ketahanan pangan. Namun, pada dekade terakhir, khususnya sejak 2019, sektor ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, termasuk pandemi COVID-19, konflik dan perang, serta perubahan iklim global. Tantangantantangan ini memengaruhi stabilitas pasokan pangan, kualitas, keamanan, hingga akses masyarakat terhadap pangan.

Semua insan pangan, pemangku kepentingan pangan, perlu mempelajari tantangan ini, serta berupaya memberikan solusi tepat untuk memastikan tidak terganggunya penyediaan pangan yang aman, bergizi, dan berkelanjutan. Mereka diharapkan terus memainkan peran pentingnya dalam mengatasi tantangan di masa depan, berkontribusi dalam mengembangkan dan menjaga keberlanjutan sektor pangan Indonesia.

Sistem pangan

Industri pangan di Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ke depan, terdapat tantangan besar yang perlu dihadapi oleh setiap insan pangan dalam pengelolaan dan pengembangan sistem pangan di Indonesia. Tantangan besar tersebut adalah bagaimana Indonesia dapat melaksanakan transformasi sistem pangan. Pertama, tantangan ini perlu dihadapi dengan perlunya setiap pelaku dalam sistem pangan untuk menyadari bahwa mereka tidak bekerja dalam isolasi, melainkan saling terhubung dan memengaruhi satu sama lain dalam konteks sistem pangan. Konsep “from farm to fork” yang menekankan pentingnya melihat perjalanan pangan secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga konsumsi, perlu diperkuat menjadi sistem pangan yang lebih baik. Dalam hal ini, sistem pangan adalah “interconnected web of human activities that links food production, processing, distribution, and consumption with human health and the environment”. Tantangan transformasi sistem pangan ini telah menjadi kesadaran global kolektif, yang dilandasi dengan kenyataan bahwa sistem pangan saat ini ternyata tidak terlalu kokoh (terbukti tidak terlalu tangguh menghadapi pandemi COVID-19, perang, dan lainlain), serta memberikan dampak kesehatan manusia dan lingkungan yang kurang baik. Karena itulah maka diperlukan adanya transformasi sistem pangan, yang bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan resiliensinya; yaitu kemampuannya untuk bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi, mengatasi, mencegah, meminimalkan atau menghilangkan tekanan pada sistem. Dengan demikian, diharapkan untuk terus mampu berfungsi memberikan ketahanan pangan dan gizi bagi semua. Menjamin kemampuan produksi pangan dalam berbagai skenario situasi, sehingga dapat memastikan ketahanan pangan dan gizi, dengan tetap memberikan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang optimal. Transformasi ini memerlukan investasi dan inovasi untuk memastikan bahwa sistem pangan secara keseluruhan menjadi lebih berkelanjutan dan adil, serta menjamin akses bagi setiap individu untuk hidup sehat, aktif, dan produktif.

Kontribusi dari semua komponen dalam sistem pangan, termasuk pelaku usaha pangan, pemerintah, akademisi, konsumen, dan media, sangat diperlukan untuk menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan adil. Kesadaran kolektif ini mewarnai dialog global tentang masa depan pangan dunia, dan mengakui bahwa setiap komponen sistem pangan saling berhubungan dan memengaruhi.

Konferensi Perubahan Iklim Internasional tahun lalu (COP28, Dubai, UAE, 30 Nov - 13 Des 2023), misalnya, mengidentifikasi isu pangan sebagai fokus utama dalam agendanya. Hasilnya, seperti yang dinyatakan dalam dokumen COP28- UAE Consensus, ketahanan pangan menjadi prioritas utama COP. Deklarasi COP28 tentang Pertanian Berkelanjutan, Sistem Pangan Tangguh, dan Aksi Iklim, mendapat dukungan besar dari 159 kepala negara dan pemerintahan, bertujuan untuk menjawab tantangan pangan ke depan dan mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi dampak iklim.

Selain COP28, Forum Pangan Dunia FAO (The 2023 World Food Forum, Roma, 16-20 Oktober 2023) juga mengidentifikasi tantangan yang sama, dan menyatakan bahwa transformasi sistem pertanian pangan dapat dan harus menjadi bagian penting dari solusi iklim global dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 5

Artikel Terkait