Pemanfaatan Teknologi Membran dalam Produksi Peptida Bioaktif sebagai Ingridien Pangan Fungsional


Oleh Azis Boing Sitanggang
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB University

Perubahan pola konsumsi masyarakat dewasa ini memicu transformasi industri pangan. Konsumen kini lebih sadar akan kesehatan dan kelestarian lingkungan, mendorong permintaan terhadap pangan fungsional, yang tidak hanya bergizi dan menyehatkan, tetapi juga diproduksi secara berkelanjutan (sustainable). Hal ini membuka peluang bagi pengembangan teknologi pangan yang inovatif dan ramah lingkungan.

Pangan fungsional adalah pangan yang memberikan manfaat terhadap kesehatan selain efek zat gizi secara umum. Untuk mendukung produksi pangan fungsional, berbagai teknologi ingridien dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang bersifat personal (personalized nutrition). Salah satu dari teknologi yang ramah lingkungan dan dapat dimanfaatkan dalam memproduksi ingridien pangan fungsional adalah teknologi membran yang dikombinasikan dengan reaksi enzimatik. 

Peptida bioaktif merupakan fragmen protein spesifik (2-20 asam amino) yang memiliki dampak positif pada tubuh (Sánchez et al., 2017). Fungsionalitas dari peptida bioaktif ditentukan oleh berat molekul, komposisi asam amino, dan letak asam amino spesifik pada N- dan C-terminal. Resisten terhadap enzim pencernaan, peptida bioaktif dianggap sebagai regulator bioaktif yang mencegah oksidasi, penghambat kerja enzim pengkonversi angiotensin (ACE), antimikroba dan lainnya. Peptida bioaktif berada dalam bentuk inaktif dalam sekuens protein induk (“parent”), dan untuk melepaskan peptida bioaktif dapat dilakukan melalui: (1) hidrolisis oleh enzim pencernaan, (b) hidrolisis oleh mikroorganisme proteolitik, (c) hidrolisis melalui enzim yang didapatkan dari mikroorganisme atau tumbuhan dan (d) pengolahan pangan (Sitanggang et al., 2020). 

Sebagai bagian dari teknologi membran, reaktor membran enzimatik (enzymatic membrane reactor/EMR) merupakan suatu desain reaktor yang dapat memfasilitasi secara simultan reaksi katalitik dan pemisahan produk. Dengan pemilihan berat molekul retensi membran (cut-off) yang tepat, di mana molekul enzim dapat tertahan di dalam reaktor, maka hidrolisis makromolekul atau sintesis suatu ingridien pangan fungsional dapat dilakukan secara kontinu. Dalam hal ini, produksi peptida bioaktif lewat hidrolisis protein induk dari bahan pangan, dapat dilakukan. 

Proses produksi suatu senyawa secara kontinu dapat meningkatkan produktivitas volumetrik dibandingkan dengan operasi bets yang memiliki potensi proses yang kurang efisien dan fluktuasi kualitas produk antar bets. Penggunaan EMR untuk produksi kontinu peptida bioaktif dapat mengatasi beberapa masalah, termasuk: (i) reaksi dan pemisahan dapat terjadi dalam satu unit operasi, (ii) penggunaan biokatalis (enzim) yang terdispersi, menghilangkan biaya dan waktu nonproduktif untuk imobilisasi enzim, dan (iii) penggunaan membran dengan ukuran yang tepat dapat meningkatkan proses separasi dan selektivitas pemisahan, sehingga meningkatkan aktivitas biologis peptida yang dihasilkan.

Reaktor membran enzimatik untuk produksi peptida bioaktif
Sitanggang et al. (2021) mendesain sistem EMR untuk memproduksi peptida bioaktif secara kontinu (Gambar 1). Bagian atas dan bawah reaktor terbuat dari baja nirkarat, dan badan reaktor terbuat dari kaca borosilikat. Konfigurasi antara diameter tangki dan pengaduk (D/d) sebesar 1.175, unbaffled, dan reaktor stabil pada tekanan maksimal 6 bar. Membran yang digunakan merupakan ultrafiltrasi membran dengan luas permukaan efektif 1.24 x 10-3 m2 yang diletakkan di bagian bawah reaktor (posisi dead-end). Nitrogen (N2) digunakan untuk memompa substrat keluar dari tangki substrat masuk ke dalam reaktor. Pelepasan gas nitrogen dikontrol dengan menggunakan regulator tekanan MPPES-3-1/4-6-010. Permeat kemudian dikumpulkan pada wadah yang diletakkan di atas neraca analitik. Pengendali PID dikembangkan menggunakan LabVIEWTM. Melalui sistem reaktor yang dikembangkan, maka, hidrolisis kontinu protein serta separasi peptida dapat dilakukan pada nilai fluks membran dan waktu tinggal reaksi yang konstan. Untuk evaluasi proses, studi dengan menggunakan reaktor yang terkait dapat menghubungkan kesenjangan antara skala laboratorium tahap bets dan operasi kontinu pada skala industri.


Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait