Ekstrak TEH: Sumber Katekin untuk Pewarna dan Perisa Alami dalam Industri Pangan


Oleh M. Abdul Jabbar Filayati
Department Post-Harvest and Engineering Pusat Penelitian Teh dan Kina

Katekin kini dipandang sebagai ingridien alami strategis bagi industri pangan modern. Selain nilai fungsionalnya bagi kesehatan, senyawa ini memiliki potensi besar sebagai pewarna dan perasa alami untuk berbagai formulasi produk pangan. Dengan karakteristik tersebut, katekin—bersama senyawa bioaktif lain dalam ekstrak teh— membuka peluang pengembangan berbagai formulasi produk pangan yang lebih alami dan sejalan dengan tren clean label.

Pemanfaatan ekstrak teh sebagai ingridien alami telah tervalidasi secara ilmiah sebagai solusi yang relevan dalam menjawab tantangan tren clean label global.

Katekin teh
Katekin adalah kelompok senyawa polifenol utama yang terdapat dalam pucuk teh (Camellia sinensis). Senyawa ini termasuk dalam kelompok flavonoid yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Beberapa jenis katekin yang paling banyak ditemukan dalam teh antara lain epigallocatechin gallate (EGCG), epicatechin gallate (ECG), epigallocatechin (EGC), serta epicatechin (EC).

Di antara berbagai jenis teh, teh hijau dikenal sebagai sumber katekin yang paling tinggi. Kandungan katekin pada teh hijau dapat mencapai sekitar 50- 60% dari total polifenol yang terdapat dalam pucuk teh. Hal ini dikarenakan proses pengolahan teh hijau dilakukan tanpa melalui proses oksidasi enzimatik, sehingga sebagian besar katekin tetap berada dalam bentuk aslinya. Namun pada proses pengolahan teh hitam, oksidasi enzimatik terjadi cukup mendalam. Katekin mengalami transformasi kimia menjadi senyawa lain seperti theaflavin dan thearubigin. Kedua senyawa ini berperan penting dalam memberikan warna merah kecokelatan serta karakter yang khas pada teh hitam.

Adapun teh ungu (purple tea) memiliki karkteristik unik karena selain memiliki kandungan katekin yang tinggi, teh ungu juga mengandung antosianin, yaitu pigmen alami yang umum ditemukan pada buah beri atau anggur. Kandungan antosianin pada teh ungu (purple tea) ditemukan mencapai sekitar 2.497 – 3.228 μg/g dalam bentuk delphinidin-coumaroyl-hexoside, yang memberikan warna ungu kemerahan yang menarik. Kombinasi antara katekin dan antosianin menjadikan teh ungu sebagai sumber potensial untuk pengembangan pewarna alami sekaligus bahan fungsional dalam produk pangan.


Katekin sebagai pewarna alami
Pada kondisi alamiahnya, katekin sebenarnya tidak memiliki warna yang terlalu kuat. Namun, melalui proses kimia tertentu, terutama oksidasi enzimatik, senyawa ini dapat berubah menjadi berbagai pigmen yang memiliki warna lebih intens. Selama proses oksidasi enzimatik, katekin dapat terjadi reaksi polimerisasi yang menghasilkan berbagai macam senyawa turunan, termasuk pigmen berwarna oranye hingga merah kecokelatan. Salah satu pigmen yang dapat diidentifikasi dalam teh hitam adalah dehydrotheasinensin AQ, yang diketahui memiliki stabilitas warna yang cukup menarik. Pigmenpigmen hasil oksidasi ini dapat memberikan warna cokelat kekuningan hingga merah kecokelatan pada produk pangan. Warna ini cukup menarik untuk berbagai aplikasi makanan dan dapat menjadi alternatif alami sebagai pengganti warna sintetis.

Di sisi lain, teh ungu (purple tea) memberikan dimensi warna yang berbeda karena kandungan antosianinya yang tinggi. Teh ungu memiliki antosianin yang didominasi oleh senyawa delphinidin, yang dapat mencapai lebih dari 78% dari total pigmen. Senyawa ini menghasilkan warna ungu hingga merah keunguan yang menarik dan relatif stabil.

Karakteristik warna dari berbagai jenis teh ini membuka peluang pemanfaatan ekstrak teh sebagai pewarna alami dalam berbagai produk seperti produk bakeri, minuman fungsional, yoghurt, dan kosmetik berbasis bahan alami. Adapun berbagai karakteristik teh dapat dilihat pada Tabel 1.

Katekin sebagai perisa alami
Katekin juga dapat berkontribusi terhadap profil rasa dalam produk pangan. Pada minuman teh, katekin dikenal memberikan sensasi yang pahit ringan dan astringent, yaitu sensasi kesat yang terasa didalam rongga mulut. Sensasi ini terjadi akibat adanya interaksi antara katekin dengan protein dalam saliva. Interaksi ini menyebabkan presipitasi protein sehingga dapat menimbulkan sensasi yang kering atau kesat pada lidah. Dalam konteks minuman teh, sensasi astringent dapat dianggap sebagai bagian dari karakter rasa yang diinginkan

gunakan sebagai komponen flavor alami yang dapat memberikan nuansa rasa herbal, segar, dan sedikit pahit yang seimbang. Jika digunakan dalam jumlah yang tepat katekin dapat juga meningkatkan kompleksitas rasa suatu produk tanpa membuatnya terasa terlalu pahit.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait