
Oleh C. Hanny Wijaya
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan, IPB University
Sejak dahulu, rempah dan herbal telah diakui sebagai bahan baku andal dalam menciptakan cita rasa yang kuat dan khas pada produk pangan. Popularitasnya kini semakin meningkat pesat, seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat global akan pentingnya hidup sehat. Hal ini menjadikan rempah dan herbal tidak hanya dipandang sebagai penambah rasa, tetapi juga sebagai sumber komponen bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Keunggulan fisiologis dari kandungan komponen bioaktif dalam rempah dan herbal dianggap mampu membantu menjaga kesehatan tubuh. Oleh karena itu, rempah dan herbal sangat berpotensi sebagai ingridien pangan fungsional. Tantangan terbesar dalam mengaplikasikannya dalam produk pangan adalah mengharmoniskan aspek sensoris cita rasa dengan kemampuan bioktif yang diharapkan. Jumlah senyawa bioaktif yang diperlukan untuk mencapai efikasi kesehatan sering kali tidak sejalan dengan cita rasa yang ditimbulkan. Memodifikasi bentuk ekstrak rempah dan herbal target dalam bentuk Extracellular Vesicles (EVs) dampak membantu mengatasi kendala tersebut.
Apa itu ExtracellularVesicles (EVs)?
Extracellular Vesicles atau sering disingkat sebagai EVs adalah sekelompok senyawa berbeda dengan ukuran nano 20-500 nm, terikat dalam membran lipida lapis ganda, diekskresikan oleh sel ke lingkungan di luar sel. EVs dapat memiliki rute biogenesis yang berbeda-beda (Rivero- Pino et al., 2024). Ekskresi sel ini memainkan peran penting dalam komunikasi intraselular, juga berperan dalam berbagai proses fisiologis dan patologi. EVs memiliki beragam molekul berkapasitas informasi tinggi , termasuk protein, lipida dan asam nukleat (RNAs), juga miRNAs penting yang dapat dikirimkan ke sel penerima, dan mempengaruhi perilaku serta fungsi selt tersebut. tersebut.
EVs ditemukan pada semua mahkluk hidup. Pada manusia EVs berperan luas dalam berbagai proses biologis, mulai dari modulasi imunitas hingga pencetus kanker. EVs juga dilaporkan turut serta dalam interaksi antara mikroba patogen dengan inangnya hewan atau tanaman. Ulasan terkini terkait EVs banyak menyoroti perannya dalam komunikasi (intra-dan interspesifik) antar sel-sel hidup dalam berbagai konteks (Colombo et al., 2014).
EVs dapat diproduksi dari/oleh berbagai jenis tipe sel dan jalur sel yang berbeda. EVs diklasifikasikan ke dalam beberapa sub-tipe seperti eksosom, microvesciles, dan apoptotic body, yang berbeda dalam biogenesis, ukuran dan kargonya.
Belakangan ini, EVs, terutama eksosom, banyak mendapat perhatian sebagai penanda diagnostik dan perangkat terapeutik yang potensial. EVs dapat digunakan sebagai sarana pengiriman obat (drug delivery), bertindak sebagai penanda biologis untuk berbagai penyakit, dan berperan secara revolusioner dalam berbagai pengobatan, terutama untuk mengatasi gangguan pada syaraf (neurologial disorder).
Potensi EVs sebagai ingridien pangan fungsional
Ada beberapa alasan mengapa EVs berpotensi sebagai bahan pangan fungsional, diantaranya: (i) produksi EVs tersebar di semua domain kehidupan (ii) laporan tentang berbagai peran/ fungsi EVs terus bertambah, terutama terkait dengan kemampuannya sebagai komunikator biologis yang unggul, (iii) studi terkait EVs, menjadi penting untuk memahami proses biologis dan sebagai alat diagnostik dan pengobatan pada dunia pengetahuan biomedis yang diharapkan, tentunya juga dapat berperan sebagai pencegahan melalui pangan fungsional, (iv) peran unik EVs dalam ranah bioteknologi menarik perhatian, terutama terkait dengan fermentasi.
Seperti telah disampaikan sebelumnya bahwa sumber EVs sangat beragam. EVs dapat diperoleh tidak hanya dari sumber hewani seperti susu, tetapi juga dari tanaman dan jasad renik (mikroba) yang tersedia melimpah. Pemanfaat EVs tanaman dan mikroba, selain lebih mudah dalam penanganan terutama terkait dengan segi legalitas serta juga lebih kompetitif secara ekonomis. EVs dari tanaman yang banyak dieksplorasi saat ini adalah Plant Derived Exosome-like Nanoparticles yang disingkat PDEN.
Pemanfaatan EVs dari bawang putih sebagai antimikroba dalam pangan dan potensinya sebagai pengawet telah dilaporkan oleh Zhu et al (2025). Penelaahan EVs dari tanaman pangan sudah banyak dilaporkan, diantaranya anggur, tomat wortel, anggur, lemon, gandum, bluberi, stroberi, acerola, kelapa, brokoli termasuk rempah seperti jahe dan herbal seperti ginseng dan teh (Fan et al., 2022). Di Indonesia, penelitian terhadap takokak dan jahe menunjukan keunggulan EVs yang dihasilkan baik sebagai antiinflamasi dan antikanker. EVs bengkuang juga dilaporkan bermanfaat dalam dunia kosmetik.
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.

