
Terinspirasi oleh alat uji strip COVID-19, tim mahasiswa sains dari Universitas Chulalongkorn yakni Charee Songboonkaew, Zeaneta Maria Goreti Arnold, dan Phutthida Chan-iam, mengembangkan alat uji untuk mendeteksi patogen dalam susu dan produk susu. Alat uji ini menggabungkan teknik LAMP (Loop-mediated Isothermal Amplification) dengan teknologi uji strip sehingga menciptakan alat skrining praktis dan sederhana yang mudah digunakan oleh masyarakat untuk mendeteksi bakteri berbahaya pada susu dan produk olahannya. Menurut Charee Songboonkaew, seorang peneliti, kit uji patogen susu dapat digunakan untuk menguji produk yang mengandung susu, seperti susu segar, keju, dan yogurt. Seperti strip uji COVID-19, alat ini dirancang sebagai strip uji multipleks yang mampu mendeteksi empat patogen bakteri utama, yakni Salmonella spp., Listeria monocytogenes, Staphylococcus aureus, dan E. coli. Bakteri-bakteri ini umumnya mengontaminasi pangan dan menyebabkan masalah kesehatan seperti keracunan pangan, sakit perut, muntah, diare, hingga gejala parah pada kelompok yang rentan.
Teknologi LAMP yang digunakan memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) yang umum digunakan di laboratorium. LAMP mampu memperbanyak materi genetik target secara cepat, spesifik, dan sensitif tanpa memerlukan perubahan suhu yang kompleks selama proses analisis. Selain itu, waktu pengujian hanya sekitar 40 menit, jauh lebih singkat dibandingkan dengan PCR yang dapat memakan waktu hingga dua jam. Keunggulan lainnya adalah hasil pengujian dapat dibaca dengan mudah menggunakan metode LFD yang menghasilkan indikator visual sederhana. Hal ini membuat alat lebih ramah pengguna dan berpotensi diterapkan tidak hanya di laboratorium, tetapi juga pada fasilitas pengolahan pangan yang membutuhkan pengujian cepat.
Saat ini, tim masih terus melakukan penyempurnaan terhadap alat tersebut. Fokus pengembangan meliputi peningkatan stabilitas, percepatan waktu analisis, serta penyederhanaan desain agar lebih mudah digunakan oleh industri.
Sumber: Chulalongkorn University

