Pembelajaran Keamanan Pangan dari Penyelenggaraan POSS untuk Program MBG

Oleh Winiati P Rahayu
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan SEAFAST Center IPB University

Pangan Olahan Siap Saji (POSS) merujuk pada produk makanan dan minuman hasil olahan yang siap dikonsumsi segera, baik di lokasi usaha maupun melalui layanan luar ruang. Cakupan POSS ini sangat luas, meliputi sajian dari sektor jasa boga, perhotelan, hingga berbagai gerai ritel modern seperti kafetaria, toko roti, serta unit kuliner dinamis seperti food truck dan usaha sejenis lainnya. Pengalaman panjang dalam penyelenggaraan usaha POSS ini dapat menjadi pembelajaran berharga bagi implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama dalam aspek manajemen keamanan pangan pada produksi dan distribusi makanan skala besar.

Usaha tersebut harus dapat menjamin keamanan pangannya dari bahaya cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. Prinsip-prinsip pengendalian risiko yang telah diterapkan pada usaha POSS dapat menjadi rujukan penting bagi sistem dapur MBG, yang juga beroperasi dalam skala massal dan melayani kelompok rentan seperti anak sekolah. Namun demikian, dalam berbagai kesempatan, seringkali masih terdapat POSS yang tidak aman. Fakta ini menunjukkan bahwa pengelolaan keamanan pangan memerlukan sistem pengawasan dan penerapan standar yang konsisten, sebuah pelajaran yang relevan bagi keberlanjutan MBG.

Potensi bahaya dan faktor penyebab masalah keamanan pangan pada POSS
Berbagai cemaran biologis karena kontaminasi mikroba yang umumnya dari jenis bakteri, virus, dan protozoa dapat ditemukan pada POSS yang tidak ditangani secara higienis, atau karena pengolahan yang tidak sempurna. Jenisnya antara lain adalah Salmonella, E. coli, L. monocytogenes, S. aureus dan virus. Cemaran kimia yang dapat dijumpai pada POSS adalah logam berat, toksin alami, residu pestisida dan sejenisnya; sedangkan bahaya fisik umumnya dapat dikenali secara visual maupun melalui alat deteksi. Identifikasi dan pengendalian potensi bahaya ini menjadi dasar penting dalam sistem manajemen keamanan pangan yang juga perlu diadopsi secara ketat dalam penyelenggaraan MBG.

Penggunaan bahan baku seperti ikan/ hasil laut, daging, telur, susu rawan untuk terkontaminasi oleh bakteri, virus atau logam berat yang mencemari lingkungannya. Bahan baku serealia atau kacang-kacangan terutama yang lembap dapat mengandung mikotoksin karena kondisi tersebut baik untuk pertumbuhan kapang toksigenik penghasil mikotoksin. Kandungan mikotoksin pada pangan berpotensi menyebabkan berbagai penyakit utamanya pada hati. Buah dan sayur dapat mengandung residu pestisida atau logam berat bila penerapan good agricultural practices tidak terjaga. Protozoa, E coli dapat berasal dari air yang digunakan sebagai bahan baku atau bahan pencuci pangan dan peralatan. Pengalaman pengendalian mutu bahan baku pada usaha POSS menunjukkan pentingnya verifikasi pemasok, pemeriksaan label, serta penerapan prosedur baku operasional (SOP), yang seluruhnya dapat menjadi acuan dalam penguatan sistem MBG.
Kebersihan pekerja, ruang, dan peralatan juga menjadi faktor penting agar tidak menjadi sumber cemaran. Tangan pekerja yang tidak bersih dapat menjadi sumber S. aureus, dan pekerja yang sakit berpotensi menularkan patogen melalui pangan. Lemari pendingin yang tidak bersih dan tidak terkontrol suhunya dapat menjadi tempat pertumbuhan Listeria monocytogenes. Penyimpanan bahan baku dalam wadah terbuka meningkatkan risiko kontaminasi silang. Pembelajaran dari praktik usaha POSS menegaskan bahwa pengendalian higiene personal, sanitasi fasilitas, serta pengaturan suhu dan waktu (time–temperature control) merupakan titik kendali kritis yang juga harus menjadi perhatian utama dalam sistem operasional MBG.

Proses pengolahan pangan yang tidak tepat dapat menjadi sumber bahaya pada POSS. Suhu pemanasan yang tidak tercapai tidak akan mematikan mikroba pencemar. Hal ini perlu perhatian dilakukan dengan sempurna karena justru mikroba dapat tumbuh cepat pada suhu hangat. Perlakuan ini harus menjamin dapat mematikan Salmonella yang banyak mencemari daging unggas atau bakteri pembentuk spora yang tahan panas. Mengantisipasi bahwa mikroba dapat membelah diri dengan cepat sehingga mencapai jumlah infektif yang menyebabkan sakit, maka waktu antara POSS siap diolah dengan waktu konsumsi adalah hal yang krusial.

Antisipasi bahaya keamanan pangan

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait