
Oleh Lili Defi Z.
Direktorat Standardisasi Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pangan mendorong peningkatan penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang berasal dari sumber alami maupun proses inovatif, termasuk perisa alami, pewarna alami, serta BTP yang dihasilkan melalui proses lainnya seperti fermentasi atau bioteknologi. Penggunaan BTP tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan mutu, stabilitas, dan penerimaan produk pangan oleh konsumen, tetapi juga untuk memastikan fungsi teknologi yang konsisten dalam berbagai kondisi pengolahan dan distribusi pangan.
Sesuai dengan Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Pasal 74 ayat 1 menyatakan bahwa pemerintah berkewajiban memeriksa keamanan bahan yang akan digunakan sebagai bahan tambahan pangan yang belum diketahui dampaknya bagi kesehatan manusia dalam kegiatan atau proses produksi pangan untuk diedarkan. BTP yang digunakan dalam pangan olahan wajib memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan berfungsi secara teknologi dalam produk pangan. Dalam konteks ini, pengkajian keamanan dan mutu BTP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses persetujuan penggunaan BTP yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta menjadi instrumen utama dalam pengawasan BTP dalam rangka pengendalian risiko terhadap kesehatan masyarakat yang mengonsumsi BTP melalui pangan.
Prinsip kajian keamanan BTP
Pengkajian keamanan BTP dilaksanakan berdasarkan prinsip kehati-hatian dan pendekatan berbasis risiko (risk-based approach). Pengkajian tersebut mempertimbangkan karakteristik bahan, proses produksi, tujuan penggunaan atau fungsi teknologi pada pangan, serta tingkat paparan BTP pada konsumen. BTP hanya dapat digunakan apabila berdasarkan hasil kajian dinyatakan aman pada jumlah penggunaan yang diusulkan.
BTP yang berasal dari bahan alami tidak secara otomatis dianggap aman. Bahan alami dapat mengandung senyawa bioaktif, toksin alami, atau kontaminan yang berpotensi menimbulkan risiko apabila tidak dikendalikan. Oleh karena itu, kajian keamanan BTP alami dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan struktur kimia dan komposisi, kemurnian, Nilai ADI (Acceptable Daily Intake), paparan serta fungsi teknologi yang diharapkan pada produk pangan. Sebagai contoh, perisa alami hasil ekstraksi tanaman merupakan campuran kompleks dari berbagai senyawa. Dalam penilaian keamanan, evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap senyawa utama pemberi flavor, tetapi juga terhadap komponen minor yang secara alami terdapat dalam ekstrak. Identifikasi senyawa penanda (marker compounds), karakterisasi komposisi, serta estimasi paparan berdasarkan kategori pangan dan kelompok konsumen menjadi dasar dalam penetapan batas maksimum penggunaan yang aman.
Pengkajian mutu sebagai bagian dari keamanan BTP
Mutu BTP memiliki keterkaitan langsung dengan aspek keamanan. Variasi mutu dapat memengaruhi konsistensi komposisi BTP dan berpotensi meningkatkan paparan konsumen terhadap senyawa tertentu. Oleh karena itu, penilaian mutu BTP dilakukan bersamaan dengan penilaian keamanan. Dalam penggunaan pewarna alami sebagai BTP, seperti karotenoid, antosianin, dan klorofil, penilaian mutu mencakup evaluasi kemurnian, stabilitas, serta profil impuritas yang mungkin timbul dari proses ekstraksi atau degradasi yang mungkin timbul selama penyimpanan. Penetapan spesifikasi mutu, termasuk parameter analisis dan batas toleransi variasi, diperlukan untuk memastikan bahwa pewarna alami yang digunakan memenuhi persyaratan keamanan dan mutu yang ditetapkan. Pengendalian mutu BTP merupakan bagian dari upaya pencegahan risiko (preventive control) dalam sistem pengaw dalam sistem pengawasan pangan olahan.
Peran data analisis dalam pengkajian keamanan dan mutu BTP
Penilaian keamanan dan mutu BTP didukung oleh data analisis yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode analisis digunakan untuk memastikan identitas dan kemurnian suatu BTP serta untuk mendeteksi adanya kontaminan atau senyawa-senyawa yang mungkin membahayakan. Untuk BTP senyawa spesifik, pendekatan targeted analysis dapat digunakan; namun, untuk BTP dengan matriks kompleks, seperti BTP ekstrak bahan alam dan BTP hasil fermentasi, pendekatan non-targeted analysis (NTA) dapat digunakan untuk memperoleh fingerprint kimia suatu bahan sehingga dihasilkan gambaran komposisi yang lebih menyeluruh. Data analisis tersebut menjadi dasar dalam proses penilaian risiko dan penetapan spesifikasi mutu dan keamanan suatu BTP. Integrasi antara data analitik, informasi toksikologi, dan estimasi paparan terhadap ADI merupakan bagian dari kerangka penilaian suatu BTP sebagaimana yang telah diterapkan oleh BPOM dalam melakukan pengkajian keamanan penggunaan suatu BTP dalam pangan.
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.

