ANTIMIKROBA REMPAH & HERBAL: Menjaga Keamanan & Keawetan Pangan

Oleh Winiati P. Rahayu
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan; Fakultas Teknologi Pertanian dan SEAFAST Center, IPB University Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia

Dalam upaya menjaga mutu dan memperpanjang masa simpan produk pangan, penggunaan bahan pengawet menjadi salah satu solusi. Bahan antimikroba adalah zat tambahan yang berfungsi mencegah atau menghambat kerusakan akibat aktivitas mikroba. Antimikroba dapat berupa sintetik—seperti asam sorbat dan asam benzoat—maupun alami. Rempah dan herbal menawarkan solusi yang unik dan multifungsi sebagai antimikroba alami. Selain memberikan aroma dan cita rasa khas, rempah dan herbal juga terbukti memiliki sifat antimikroba dan antioksidan yang menjadikannya alternatif pengawet alami yang potensial.

Perpanjangan masa simpan dapat dilakukan dengan cara penanganan yang baik (good practices), ataupun dengan cara pengolahan. Dalam Upaya memperpanjang masa simpan tersebut, terkadang dibutuhkan bahan pengawet Bahan pengawet merupakan bahan tambahan pangan yang mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau penguraian akibat mikroba. Penggunaannya adalah untuk mengawetkan pangan yang memiliki sifat mudah rusak. pengawet dapat dijumpai dalam bentuk pengawet sintetik dan alami. Pengawet sintetik contohnya asam sorbat, asam propionat, asam benzoat, asam asetat, sulfit yang dihasilkan dari proses di industri. Di sisi lain, pengawet alami dapat berasal dari tumbuhan maupun hewan dan memiliki jenis yang sangat banyak. Pengawet alami dari tumbuhan antara lain yang berasal dari rempah-rempah (rempah). Rempah adalah tanaman atau bagian dari tanaman yang dapat berupa kulit, bunga, buah, akar, daun, rimpang, biji, umbi, pucuk daun, maupun bagian lainnya yang dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan, wangi-wangian, kosmetika, dan produk industri lainnya. Selain berfungsi sebagai bahan pemberi citarasa (flavoring agent), rempah juga banyak yang mempunyai sifat antimikroba dan antioksidan. Efek penghambatan terhadap pertumbuhan mikroba oleh suatu jenis rempah bersifat khas. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kandungan dan jenis senyawa antimikroba dalam setiap rempah dan herbal. 

Jenis antimikroba dari rempah
Komponen antimikroba dari rempah dapat berasal dari minyak atsiri atau komponen bioaktif yang terkandung di dalamnya, sebagian besar diketahui merupakan metabolit sekunder tanaman atau oleoresin. Oleoresin adalah suatu gugusan kimiawi yang terdapat dalam tanaman yang terdiri dari minyak atsiri, resin organik larut, dan bahan lainnya yang terdapat di dalam rempah dan juga asam lemak nonvolatil, terutama golongan fenolik dan terpenoid dalam minyak atsiri. Minyak atsiri adalah campuran berbagai senyawa seperti alkohol, aldehida, fenol, dan ester yang terkandung di dalamnya yang mudah menguap. Minyak atsiri yang mengandung senyawa dengan gugus aldehida atau fenol, seperti sinamat aldehida, sitral, carvacrol, eugenol atau timol sebagai komponen utama menunjukkan aktivitas antibakteri yang tinggi. 

Beberapa jenis rempah yang diketahui memiliki aktivitas antimikroba antara lain berasal dari berbagai jenis umbi (bawang putih, bawang merah), rimpang (kunyit, jahe, bangle, lengkuas, kencur), daun (salam), kulit (kayumanis, kayu mesoyi, dan kedawung), bunga (kecombrang), buah (andaliman, antarasa, cabe merah, pala, dan sotul), dan biji (pala, picung/kluwak, jintan). 

Proses ekstraksi komponen antimikroba dari rempah
Komponen bioaktif termasuk minyak atsiri dapat diekstrak dari tanaman dengan proses distilasi uap, distilasi uap dan air, cold processing, dan ekstraksi pelarut. Cara ekstraksinya dapat menggunakan teknik maserasi, refluks, Soxhlet, perkolasi, enfluerasi, atau ekstraksi super kritis. Teknik maserasi, refluks, Soxhlet, perkolasi biasa digunakan namun dengan rendemen hasil ekstraksi yang relatif rendah. Enfluerasi adalah ekstraksi minyak atsiri menggunakan lemak dan tanpa pemanasan, dan digunakan untuk ekstraksi bahan yang sensitif, mahal dan tidak stabil secara termal. Ekstraksi super kritis adalah ekstraksi yang memanfaatkan sifat unik fluida superkritis yang berada di atas titik kritis (suhu dan tekanan) untuk melarutkan komponen yang diinginkan. Pelarut yang biasa digunakan pada ekstraksi super kritis adalah CO2 yang relatif murah dan tidak meninggalkan residu. Pada berbagai jenis ekstraksi tersebut, jenis pelarut harus dipilih dengan tepat agar rendemen yang dihasilkan memadai, dan komponen bioaktifnya tertarik dengan baik. Bergantung dari sifat senyawa yang akan diekstrak, maka dapat digunakan pelarut yang
bersifat polar, semipolar, dan nonpolar, terutama dipilih dari jenis yang nontoksik. 

 

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait