Amina Biogenik pada Pangan Segar Asal Hewani: Pembentukan, Pencegahan dan Metode Deteksi


Oleh Meta Mahendradatta
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar PATPI Cabang Makassar

Pangan segar asal hewani seperti daging dan ikan merupakan sumber protein bernilai tinggi, tetapi mudah rusak bila penanganannya kurang tepat. Salah satu indikator penting keamanan dan mutu pangan ialah amina biogenik, yaitu senyawa yang terbentuk dari asam amino akibat aktivitas mikroorganisme, yang dapat bersifat toksik sekaligus mencerminkan tingkat kesegaran bahan.

S ebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, BAB I, Pasal 1, Angka 5, mutu pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan dan kandungan gizi pangan. Sedangkan keamanan pangan menurut Undang-Undang Pangan, BAB I, Pasal 1, Angka 36, adalah kondisi dan upaya untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. Maka sedemikian pentingnya menjaga keamanan pangan bahan segar maupun bahan siap saji dan siap santap. 

Bahan segar menjadi titik awal pentingnya perhatian terhadap keamanan pangan mengingat kondisinya yang belum tersentuh praktik pengolahan. Ditinjau dari sumbernya, bahan segar dapat berasal dari hewani dan nabati. Kedua jenis bahan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda namun keamanannya menjadi hal utama yang harus dipertimbangkan. Tulisan ini mengkaji bahan segar asal hewani yaitu daging dan ikan terutama bahaya pembentukan senyawa amina biogenik.

Amina biogenik
Amina biogenik diidentifikasi sebagai penanda penting untuk evaluasi kerusakan produk hewani seperti ikan dan daging. Mekanisme pembentukannya dalam bahan pangan tersebut diawali dengan pemecahan protein oleh enzim proteolitik dari mikroba menjadi peptida yang lebih kecil, dan akhirnya menjadi asam amino bebas yang dapat digunakan sebagai substrat. Selanjutnya asam amino bebas tersebut diubah oleh enzim dekarboksilase bakteri melalui reaksi dekarboksilasi, yaitu pelepasan gugus karboksil dari molekul asam amino, menghasilkan amina biogenik. Proses dekarboksilasi ini dipengaruhi oleh ketersediaan asam amino bebas yang meningkat akibat hidrolisis protein oleh enzim mikroba, serta kondisi lingkungan seperti suhu, pH, dan aktivitas mikroba. Amina biogenik terpenting yang ditemukan dalam bahan pangan adalah histamin, tiramin, putresin, kadaverin, feniletilamin, agmatin, triptamin, serotonin, spermidin, dan spermin (Claudia dan Ana, 2019). Reaksi pembentukan amina biogenik, dalam hal ini adalah histamin, dapat dilihat pada Gambar 1.



Keamanan bahan pangan segar asal hewani
Penting untuk mengendalikan dan memantau amina biogenik tidak hanya untuk alasan toksikologi dan kesehatan, tetapi juga karena senyawa ini dapat berperan penting sebagai indikator mutu dan/atau daya terima pada beberapa jenis pangan. Mutu pangan mengacu pada karakteristik utama yang berkaitan dengan keamanan, zat gizi, ketersediaan, kemudahan, integritas, dan kesegaran. Konsumsi histamin diidentifikasi sebagai penyebab utama beberapa kasus keracunan pangan setiap tahun. Selain itu, kadaverin, putresin, dan tiramin diakui sebagai komponen yang memperkuat efek keracunan histamin. Penumpukan amina biogenik dalam ikan segar dan produk perikanan terutama disebabkan oleh pertumbuhan bakteri yang memiliki aktivitas dekarboksilase asam amino, yang dipermudah oleh kondisi higienis yang buruk dan kurangnya pengendalian suhu yang ketat selama penyimpanan (Zakariya et al., 2023). 

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait