Akulturasi, Modernisasi, dan Pengolahan Kue Keranjang (Nian Gao - 年糕) di Indonesia

Indonesian Nian Gao (年糕) Acculturation, Modernization and Processing

Klaudia Roseline1, Silvia Cahyadi, Chrisdina Harly H.

Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Ilmu Hayati, Universitas Surya, Tangerang.

1klaudiaroseline@gmail.com

 

ABSTRAK

Indonesia memiliki keragaman makanan dan budaya. Salah satu makanan yang tidak lepas dari kebudayaannya yaitu kue keranjang. Kue keranjang atau disebut dengan Nian Gao merupakan kue tradisional Tionghoa sebagai unsur kebudayaan yang selalu ada pada saat tahun baru Imlek. Kue ini memiliki rasa manis dan tekstur lengket yang melambangkan keeratan/ kerukunan antaranggota keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis akulturasi, modernisasi, dan pengolahan kue keranjang saat ini di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka, observasi, dan wawancara langsung dengan beberapa narasumber. Akulturasi kue keranjang dimulai dari pembuatan kue keranjang itu sendiri. Sedangkan, modernisasi terjadi pada pengolahan, kemasan, rasa dan warna baru dari kue keranjang. Pengolahan kue keranjang mengalami perubahan di mana pemasakan tidak sepenuhnya menggunakan kayu bakar lagi mengingat ketersediaannya yang semakin sedikit. Modernisasi kemasan sering terlihat pada penggunaan daun pisang dan plastik. Kini, kue keranjang memiliki variasi rasa yang beraneka ragam sehingga berdampak pada warna yang dihasilkan pula.

Kata kunci : akulturasi, kue keranjang, modernisasi, pengolahan.

ABSTRACT

            Nian Gao 年糕is Chinese New Year Cake’s made by glutinous rice flour, which is sticky and sweet. Chinese Culture contributes in Indonesian food cultures, and Nian Gao in Indonesia has been used for Chinese New Year prayer for Chinese crossbreed. As sticky and sweet, nian gao represent family’s happiness and closeness. For long time ago, nian gao has been arrived in Indonesia and along those times acculturation and modernization happened. After doing some research, by literature study, observation, and interview with experts, nian gao acculturation happened in Indonesia and turn out that dodol making was inspired by nian gao. Nowdays, nian gao has a different color, taste, packaging and process then the original one from China. Nian gao used to use banana leaves, but now lots of nian gao using plastic. Another inovation, nian gao developed with a lot of flavor and color.

Keywords : Acculturation, Modernization, Nian Gao, Process.

Aplikasi Praktis

            Dari penelitian ini diharapkan budaya setiap makanan dapat lebih diperhatikan dan dikembangkan, bahwa makanan sangat melekat dengan budaya dan memiliki sejarah yang tidak boleh dilupakan. Modernisasi yang terjadi juga penting diketahui sehingga dapat dicatat apa saja yang terjadi dari tahun ke tahun, sampai di kemudian hari dapat diketahui perjalanannya. Penelitian ini juga dapat memberikan ide untuk mengembangkan produk makanan kaya budaya, digali lebih dalam proses pembuatannya agar jauh lebih praktis tetapi tetap tidak melupakan rasa dan makna dari makanan tersebut.

Pendahuluan

            Berkembangnya makanan dari waktu ke waktu tidak terlepas dari adanya pengaruh budaya, manusia, dan tempat. Arus globalisasi makanan yang terjadi saat ini tidak terlepas dari unsur sejarah. Pada perkembangannya, makanan China dianggap memiliki kontribusi penting yang memengaruhi distribusi makanan, variasi makanan, dan pola konsumsi (Wu dan Cheung, 2002). Sejak berabad-abad yang lalu, masyarakat Tionghoa yang bermigrasi ke negara - negara di Asia Tenggara termasuk ke Indonesia berasal dari berbagai suku daerah, seperti Hokkien, Teochew, Hakka, Kanton, Hainan, Kwangsi, Hokcia, Hunan, Hinghua, dan lainnya (Indonesian Cross Cultural Society dan Intisari, 2012). Seiring dengan banyaknya arus migrasi, terjadi akulturasi yang dibawa oleh masyarakat Tionghoa terhadap masyarakat Indonesia, salah satunya adalah makanan.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 8

Artikel Terkait