Peluang Ilmu dan Teknologi Pangan Menjawab Pengembangan Produk Pangan Bebas Gluten

Oleh Atiqatul Maula
Program Studi Magister Ilmu Pangan
Institut Pertanian Bogor

Berbicara masalah ketahanan pangan Nasional saat ini, maka tidak terlepas dari tingginya impor gandum di Indonesia karena konsumsi produk pangan berbasis terigu yang terus mengalami kenaikan. Data Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) mencatat bahwa konsumsi beras per kapita cenderung turun dari 107.7 kg pada 2012 menjadi 97.4 kg pada 2013. Konsumsi makanan yang mengandung beras per kapita per minggu dapat dilihat pada Gambar 1. Penurunan tingkat konsumsi beras tersebut sebagian disebabkan peningkatan konsumsi gandum yang secara otomatis turut berpengaruh pada berkurangnya kebutuhan impor beras.

Gambar 1. Konsumsi makanan yang mengandung beras per kapita per minggu (kg).
Sumber: Kementerian Pertanian

Pada satu sisi, peningkatan konsumsi gandum dianggap menguntungkan dalam menekan jumlah impor beras, namun di sisi lain hal ini justru berdampak pada meningkatnya jumlah impor gandum. Pada 2016, APTINDO menyebutkan bahwa realisasi impor gandum naik sekitar 8% dari tahun sebelumnya mencapai 8.3 juta ton. Tahun 2017, APTINDO mengestimasi kebutuhan gandum akan naik sekitar 6% dibanding sebelumnya mencapai 8.79 juta ton.

Besarnya jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai importir gandum terbesar nomor dua dunia setelah Mesir yang mencapai 11.50 juta ton. Kenaikan jumlah impor gandum yang terus terjadi ini tentu bisa menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan Nasional karena Indonesia tidak dapat memproduksi gandum sendiri melihat karakter tanah Indonesia yang kurang cocok ditanami gandum. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa tingginya impor gandum tidak hanya disebabkan oleh konsumsi produk pangan berbasis terigu saja, tetapi juga dikarenakan ada beberapa industri pakan ternak yang mengalihkan bahan bakunya dari jagung ke gandum. Bahkan tingginya impor gandum ini dinilai lebih berbahaya dari tingginya impor beras.

Upaya mengurangi impor gandum

Salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi impor gandum adalah dengan memperkuat produksi ubi kayu untuk pembuatan tepung singkong atau cassava modified flour (mocaf). Menurut laporan Direktorat Jenderal Pertanian, kemampuan produksi singkong Nasional tahun 2015 mencapai 22.7 juta ton dan 22.31% di antaranya untuk kebutuhan bahan pangan. Berdasarkan fungsi dan penggunaannya dalam industri pangan, mocaf dan tepung non-terigu lain dari bahan pangan lokal seperti tepung jagung, tepung uwi dan lainnya memang tidak bisa sepenuhnya menggantikan tepung terigu karena perbedaan karakteristik fisikokimianya.

Peranan ilmu pangan menjadi penting dalam pengembangan produk pangan non-terigu, salah satunya sebagai upaya diversifikasi bahan pangan lokal dari kelompok serealia seperti jagung, millet dan sorgum, serta dari kelompok umbi-umbian seperti uwi, singkong, garut dan lainnya. Namun, hal yang perlu dipastikan terlebih dahulu adalah ketersediaan bahan pangan lokal tersebut sebagai bahan dasar harus terjamin untuk memenuhi kebutuhan produksi produk pangan non-terigu yang akan dicapai. Oleh karena itu, optimalisasi produksi bahan pangan lokal tersebut juga penting dilakukan.

Tren produk bebas gluten

Pengembangan produk pangan non-terigu saat ini memiliki potensi yang besar mengingat sejak beberapa tahun terakhir muncul tren baru dalam pola konsumsi produk pangan secara global, yaitu tren diet bebas gluten. Di luar negeri, khususnya di Amerika, diet bebas gluten bukanlah suatu hal baru. Salah satu survei di Amerika menunjukkan bahwa belanja terhadap produk bebas gluten dihitung sejak tahun 2012 meningkat hingga 60%.

Pada awalnya, diet bebas gluten merupakan diet khusus bagi orang-orang dengan kondisi kesehatan tertentu seperti penderita celiac disease, autism dan gluten intolerant. Tetapi beberapa tahun terakhir beredar klaim yang menganggap bahwa produk bebas gluten lebih sehat, menyediakan sumber energi lebih besar, dan diet bebas gluten dapat menurunkan berat badan. Klaim tersebut mampu mengubah persepsi konsumen dan menjadi salah satu faktor yang memicu pertumbuhan pangsa pasar produk pangan bebas gluten di negara-negara Eropa dan Amerika. Sehingga, kini produk bebas gluten telah berubah dari produk obat untuk orang-orang dengan kondisi tertentu menjadi pilihan gaya hidup atau pola makan yang diminati oleh hampir semua segmen konsumen.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait