Inovasi Minuman Berbasis Nabati

 

Oleh Nurhayati Dosen THP FTP UNEJ Pengurus PATPI Pusat & Anggota PATPI Cabang Jember

Pencarian akan alternatif pangan yang tidak hanya menyehatkan tubuh tetapi juga ramah lingkungan semakin intensif. Dalam konteks ini, minuman nabati menawarkan jawaban yang menjanjikan, memenuhi kebutuhan gizi sekaligus menjawab isu keberlanjutan.

 

Minuman nabati menjadi kelompok minuman nonsusu dengan nilai gizi yang bervariasi, tergantung pada sumber bahan baku dan zat tambahan yang digunakan selama produksi (Tabel 1). Berbagai jenis produk minuman nabati lebih memungkinkan dipilih sesuai dengan preferensi dan kebutuhan konsumen terutama pada pola pangan berkelanjutan. Saat ini, kesadaran konsumen dalam memilih gizi yang tepat turut meningkatkan konsumsi akan sumber pangan nabati. Tidak hanya terkait gizi, pemilihan produk berbasis nabati juga berimplikasi bagi lingkungan, iklim, dan perlindungan sumber daya alam, serta etika bagi kesejahteraan hewan.

Dengan nilai gizi yang beragam, ketersediaan melimpah, dan aksesibilitas yang mudah bagi konsumen, minuman nabati kini menjadi pilihan pengganti susu yang kian digemari. Klasifikasi alternatif minuman berbahan dasar tanaman disajikan pada Tabel 2.

Konsumsi minuman berbasis nabati ditentukan oleh tiga faktor yang paling diperhatikan konsumen yaitu nilai gizi (63,6%), rasa (56,3%), dan kalori (42,8%). Di pasar Tiongkok saat ini, santan (coconut milk) adalah minuman berbasis nabati paling populer dengan tingkat pembelian tertinggi (61,2%), diikuti oleh sari kedelai (53,9%) (Wang et al., 2025). Hal tersebut bisa berdampak ke pasar Indonesia, dengan meningkatnya harga komoditas kelapa pada tahun 2025.

Konsumen pria lebih menyukai minuman nabati dengan kandungan protein lebih tinggi dan diperkaya dengan antioksidan, sementara konsumen wanita lebih menyukai minuman nabati rendah kalori dan diperkaya dengan kolagen, serat pangan, dan probiotik. Profil gizi minuman nabati bervariasi dan banyak yang tidak memiliki standar identitas sehingga perlu dilakukan standardisasi fortifikasi gizi terkait jenis dan jumlah bahan tambahan untuk memastikan keamanan konsumen dan menghindari potensi fortifikasi berlebihan atau kekurangan.

Formula asam amino untuk bayi dengan masalah alergi susu sapi
Bagi balita yang tidak mendapatkan ASI (air susu ibu), maka diperlukan asupan susu formula baik susu hewani atau nabati. Akan tetapi terdapat bayi yang mengalami alergi terhadap protein susu sapi sehingga diperlukan susu pengganti dari protein nabati dan dikenal dengan susu formula berbasis asam amino bebas agar tidak memicu reaksi alergi. Formula asam amino direkomendasikan untuk bayi yang tidak merespons formula hidrolisat ekstensif atau memiliki alergi susu sapi berat. Penggunaan formula ini dapat memperbaiki pertumbuhan, mengurangi gejala alergi, dan meningkatkan fungsi saluran cerna. Asam amino memiliki berbagai manfaat penting untuk bayi, antara lain yaitu: meningkatkan sistem kekebalan tubuh karena membantu pembentukan antibodi dan sel darah putih; mendukung pertumbuhan dan pembentukan/perkembangan otot serta jaringan tubuh; mengurangi gejala alergi terhadap protein susu sapi; mendukung pertumbuhan optimal yang cukup berkontribusi pada berat dan tinggi badan yang ideal. Tabel 3. menyajikan kandungan energi dan standar/acuan gizi minimum minuman protein berbasis nabati

Konsumen perlu berkonsultasi dengan dokter dan atau ahli gizi sebelum memutuskan untuk mengonsumsi minuman nabati ke dalam pola makan terutama bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, ibu hamil dan menyusui, lansia, dan orang dengan kondisi medis. Minuman yang difortifikasi dengan kalsium dan vitamin, terutama vitamin B12, B2, dan D biasanya lebih disukai. Jika mengaplikasikan prinsip pangan organik akan menjadi faktor pembatas untuk penggunaan pengayaan menurut peraturan UE (Peraturan (UE) 2021/1165; Peraturan (UE) 2018/848; OJ C 278, 12.07.2021). Minuman nabati tanpa tambahan gula lebih disukai. Biasanya menghindari penggunaan sumber gula sederhana, seperti sukrosa (gula bit dan tebu), sirup anggur, atau sirup agave. Akan tetapi minuman berbahan dasar tanaman tidak boleh digunakan dalam gizi bayi. Biasanya tahap penyajian untuk minuman nabati harus dikocok sebelum dikonsumsi, karena endapan yang mengandung kalsium dan pati dapat terbentuk di bagian bawah. Di masa mendatang, minuman fermentasi berbahan dasar tumbuhan dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang menggunakan minuman berbahan dasar tumbuhan dalam pola makan mereka.

Inovasi minuman protein terfermentasi

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait