
Oleh Dea Putri Utami
Head of Research & Development PT Teknologi Nutrimen Sehat (Arummi Foods)
Memasuki 2026, inovasi pangan fungsional semakin dituntut untuk menjawab kebutuhan kesehatan, keberlanjutan, dan preferensi konsumen. Protein nabati muncul sebagai salah satu kandidat utama, khususnya dalam bentuk minuman siap konsumsi, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas protein, sifat fisikokimia, stabilitas zat gizi, serta rekayasa proses yang tepat. Dalam konteks tersebut, pengembangan minuman protein nabati memerlukan pendekatan ilmiah yang terpadu antara gizi, teknologi proses, dan karakteristik unik bahan baku lokal.
Produk tinggi protein juga dapat memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga mencegah konsumsi makanan berlebihan dan membantu penurunan berat badan. Produk dengan jenis protein keratin dan kolagen mendukung kesehatan rambut dan kulit.
Protein whey yang merupakan protein hewani telah banyak digunakan sebagai bahan baku minuman tinggi protein. Seiring berkembangnya tren dan kebutuhan produk vegan, protein nabati juga mulai dikembangkan. Salah satu tantangan protein nabati adalah kualitas protein. Berdasarkan parameter
Digestible Indispensable Amino Acid Score (DIAAS) yang menggambarkan kualitas protein, protein kedelai dianggap paling mendekati dengan protein hewani (Herreman et al., 2020), sehingga secara global pengembangan produk dan teknologi prosesnya terbilang sudah lebih matang. Hal ini tidak membatasi penggunaan protein nabati dari sumber lain, namun justru memberi peluang untuk mengombinasikan lebih dari satu sumber protein yang dapat saling melengkapi. Sebagai contoh, protein kacang polong tinggi akan asam amino lisin, tapi kekurangan asam amino metionin+sistein, sedangkan protein gandum sebaliknya. Protein kacang polong dan protein gandum masing- masing memiliki DIAAS 70 dan 48. Ketika protein kacang polong dan protein gandum dicampur dengan rasio 60:40, parameter DIAAS campurannya adalah 85. Artinya, kualitas protein campuran lebih tinggi dari masing- masing protein penyusunnya (Herreman et al., 2020).
Bergantung pada sumber bahan baku dan teknologi prosesnya, minuman berbasis protein nabati mengandung serat, lemak tak jenuh, mikronutrien, dan/atau komponen bioaktif. Xing et al. (2020) melakukan studi fraksinasi protein dari kacang polong dan lentil dengan metode air classification yang menghasilkan fraksi dengan sekitar 50% protein dan sekitar 20% serat. Dengan metode yang sama diterapkan pada chickpea, fraksi yang dihasilkan mengandung sekitar 30% protein dan 10% lemak, yang sebagian besar merupakan lemak tak jenuh. Isolat protein kedelai pada studi Shao et al. (2009) mengandung isoflavon sebanyak 9.113 – 17.918 nmol/gram, yang menunjukkan 67% perolehan dari total isoflavon yang terkandung pada tepung kedelai sebelum proses ekstraksi protein.
Dalam pengolahan produk ready to drink (RTD), proses termal diterapkan untuk memastikan produk stabil selama masa penyimpanan. Karena itu, ketahanan kandungan nutrien atau komponen bioaktif dari bahan baku terhadap panas perlu dievaluasi. Sebagai contoh, pada kacang, mineral tembaga dan magnesium lebih tahan terhadap temperatur tinggi dibandingkan vitamin K. Data dan studi mengenai stabilitas zat gizi dan interaksinya dengan bahan baku lain berperan penting dalam pengembangan konsep dan formulasi agar manfaat produk minuman fungsional dapat dikomunikasikan kepada konsumen secara tepat sasaran.
Potensi sumber protein nabati lokal
Sumber protein nabati yang banyak digunakan dalam industri minuman saat ini sebagian besar berasal dari bahan baku impor seperti kedelai, kacang polong, lentil, dan faba bean. Studi mengenai ekstraksi, fungsionalitas, dan manfaat kesehatannya pun telah banyak dilakukan. Namun, kondisi ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan sumber protein lokal. Pengembangan bahan baku lokal tidak hanya mendukung kemandirian pangan, tetapi juga memberdayakan komunitas lokal, memperkaya diversifikasi sumber protein, serta memberikan nilai tambah ekonomi.
Kacang mede atau kacang hijau adalah contoh di antara bahan baku yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku minuman fungsional. Kacang mede mengandung 18-20% protein, lemak tak jenuh yang didominasi oleh asam oleat, serta mineral-mineral penting, seperti tembaga, magnesium, dan zat besi. Sementara itu, kacang hijau mengandung 20-30% protein, sekitar 10% serat, dan kaya akan folat dan polifenol.
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.

