Mengungkap Fenomena Bread Staling

Mengungkap Fenomena Bread Staling

Bread staling dapat menyebabkan perubahan, baik dari fisik maupun kimia. Perubahan tersebut akan mempengaruhi rasa, aroma, kekerasan, opacity, crystallinity, crumbliness, kapasitas penyerapan air, kerentanan untuk diserang β-amylase, dan crumb soluble starch content. Banyak penelitian telah dilakukan berkaitan dengan bread staling. Sebab fenomena ini sangat mempengaruhi kualitas roti. Walaupun telah dipelajari cukup lama, namun bread staling tetap tidak bisa dihilangkan dan bertanggung jawab terhadap kerugian ekonomi cukup besar, baik yang harus ditanggung oleh industri roti maupun konsumen.

Roti merupakan produk yang bersifat tidak stabil, elastis, memiliki solid foam, serta mengandung matriks hasil ikatan silang molekul gluten dan polimer pati. Dalam pembuatan roti, perlakuan fisik dan mekanis selama mixing, reaksi kimia (termasuk reaksi enzimatis), dan pengaruh proses termal (waktu dan suhu pemanggangan) akan mempengaruhi karakter produk akhir yang akan dihasilkan. Akibat pengaruh faktor-faktor tersebut, terjadinya staling menjadi semakin rumit. Dalam roti sederhana saja yang hanya mengandung beberapa komponen dalam formulasinya, terjadinya staling masih sulit dijelaskan, karena setiap komponen dapat berkontribusi terhadap perubahan selama proses pengolahan, dari mixing hingga aging produk akhir. Apalagi untuk roti kompleks, yang komponennya lebih heterogen. Penjelasan dan hipotesis yang hanya melibatkan 1-2 komponen tidak dapat mengungkap terjadinya staling secera komprehensif (Gray and Bemiller, 2003). Secara umum, komponen yang terdapat pada roti antara lain tepung, air, gula, shortening, nonfat dried milk (atau penggantinya), garam, yeast, malt, dan sebagainya. Tepung sebagai bahan baku primer, terdiri dari komponen utama gluten, pati, dan pentosan (terutama arabinoxylans), di mana kesemuanya itu berkontribusi terhadap proses dan produk akhir, termasuk terhadap staling.
Staling adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan perubahan yang terjadi pada roti selama penyimpanan, tapi bukan akibat kontaminasi mikroba (Ahlborn, et al., 2005). Fenomena ini biasanya menyebabkan penerimaan produk oleh konsumen menjadi menurun. Resistensi deformasi bread crumb merupakan atribut tekstur (firmness) yang menjadi faktor penting dalam staling. Derajat firmness dan peningkatan crumbliness sering digunakan sebagai parameter bread staling.

Mekanisme staling
Bread staling terdiri dari dua jenis, yakni crust staling dan crumb staling. Crust staling diakibatkan oleh adanya perpindahan air dari crumb menuju ke crust menghasilkan soft and leathery texture. Sedangkan crumb staling lebih kompleks, penting, dan sedikit dipahami. Crumb staling berkaitan dengan firmness roti secara keseluruhan. Oleh sebab itulah, dibandingkan crust staling, crumb staling mendapat perhatian yang lebih dari para pelaku dalam industri bakery.
Rintangan terbesar dalam mengembangkan strategi pencegahan terhadap terjadinya brad staling, adalah kegagalan dalam memahami mekanisme staling secara komprehensif. Banyak penelitian yang telah dilakukan, dan telah dihasilkan berbagai teori untuk menjelaskan hal tersebut. Beberapa teori utama tersebut antara lain:

Retrogradasi amilopektin. Retrogradasi polimer pati bertanggung jawab terhadap terjadinya staling pada roti. Hal ini dikarenakan, pola difraksi x-ray fresh bread mirip dengan yang dihasilkan freshly gelatinized wheat starch, sedangkan stale bread memiliki pola yang sama dengan retrograded starch. Penemuan ini menimbulkan hipotesis, bahwa perubahan gradual pada komponen pati, dari amorphous menuju bentuk crystalline merupakan faktor penting dalam proses staling. Kemudian beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa laju pengembangan kristal dalam gel pati, juga mirip dengan laju bread firming. Namun, Dragsdorf dan Varriano-Marston (1980) berhasil membuktikan, bahwa derajat pengkristalan bread crumb berbeda dengan firmness-nya. Hal ini menyimpulkan bahwa kristalisasi pati dan bread firming merupakan proses yang berbeda.
Penelitian-penelitian lain terus dilakukan dengan berbagai hasil, baik yang mendukung ataupun tidak. Tidak aneh jika peranan pati, baik amilosa dan amilopektin, terus menjadi perdebatan. Sehingga kemudian diyakini, bahwa retogradasi amilopektin bukan satu-satunya penyebab terjadinya firming.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait