Mitigasi dan Adaptasi Dampak Perubahan Iklim untuk Pangan Dan Pertanian


Perubahan iklim yang terjadi secara global menyebabkan dampak negatif terhadap pengelolaan pertanian serta keamanan pangan. Produksi bahan pangan menjadi terganggu dengan adanya cekaman lingkungan baru akibat iklim maupun sumber penyakit baru. Ancaman ini terjadi secara global termasuk juga di Indonesia dan hal ini berdampak pada pentingnya memiliki strategi-strategi baru pada proses produksi, distribusi, dan pengolahan sumber pangan agar dapat memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Pertanian dan Pangan menyelenggarakan 2nd International Conference on Food and Agriculture Science (ICFAS) dengan tema “The Future Innovation and Technology in Food and Agriculture Sustainability to Face Climate Change” yang dilaksanakan secara hibrida di Yogyakarta pada beberapa waktu lalu. Forum ini menjadi ajang pertukaran informasi mengenai penelitian terkini dengan tujuan untuk membangun dan memperkuat kerja sama ilmiah antar lembaga penelitian.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari mengatakan bahwa ICFAS 2023 menjadi media untuk menyaksikan inovasi mutakhir dalam merevolusi cara kita memproduksi, mendistribusikan, dan mengkonsumsi pangan. “Partisipasi peneliti, dosen, teknisi, pelajar, dan praktisi dapat berkontribusi pada gerakan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan dapat mengembangkan strategi untuk memerangi perubahan iklim sekaligus memastikan ketahanan pangan bersama-sama,” katanya.

ICFAS melibatkan 12 negara dari empat benua sebagai pemakalah, penyaji, dan pembicara. Acara ini juga didukung oleh berbagai stakeholder industri bidang pertanian dan pangan yang mengisi mini-pameran sebagai pendukung acara kegiatan ICFAS. Selain itu sebagai acara tambahan diselenggarakan kegiatan workshop terkait perkembangan teknologi deteksi halal serta kunjungan ke industri atau UMKM yang menjadi mitra BRIN di area Yogyakarta.

 

Teknologi dan inovasi masa depan pada pertanian dan pangan berkelanjutan

Indonesia adalah salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau. Selain itu Indonesia juga terletak di garis ekuator sehingga memiliki iklim tropis. Pada satu sisi hal ini membuat Indonesia kaya dengan biodiversitas namun juga rentan dengan efek dari perubahan iklim.

Lebih dari 13% GDP Indonesia dihasilkan dari sektor pertanian yang sangat dipengaruhi perubahan iklim. Hal ini telah dipercaya secara luas bahwa perubahan iklim memiliki dampak secara langsung dan signifikan terhadap keamanan pangan karena perubahan pola cuaca, cuaca ekstrim, dan berbagai kerusakan lingkngan yang membuat produksi pangan menjadi lebih sulit dan tidak pasti.

Kepala Badan Pangan Nasional Republik Indonesia, Arief Prasetyo Adi mengatakan, “Untuk menghadapi tantangan ini, Indonesia telah menerbitkan Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 sebagai kerangka legal untuk memelihara keamanan pangan. Hal ini sudah jelas bahwa tujuan dari keamanan pangan adalah membuat hidup sehat, aktif, dan produktif dengan berkelanjutan,” ungkapnya dalam kesempatan yang sama.

Selanjutnya pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2021 berkaitan dengan Badan Pangan Nasional. Kelahiran Badan Pangan Nasional bertujuan untuk menguatkan upaya formulasi peraturan dan koordinasi untuk mentransformasi sistem pangan nasional, berkaitan pemeliharaan ketersediaan, produksi, dan penyediaan pangan.

“Kita membutuhkan langkah konkrit untuk menghadapi perubahan iklim dengan menguatkan cadangan pangan baik nasional maupun lokal, mengubah sistem distribusi pangan, ketersediaan pangan dan harga, serta mendukung diversifikasi pangan lokal. Salah satu upaya menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan, Badan Pangan Nasional memformulasi ramalan keseimbangan pangan nasional secara periodik. Berdasarkan ramalan selama Januari hingga Desember 2023 ketersediaan keseluruhan dua belas pangan strategis diproyeksikan aman dan cukup menghadapi permintaan hingga akhir tahun ini,” ujar Arief.

 

Kebijakan penelitian pada industri pangan dan pertanian yang kompetitif

Salah satu cara untuk menjaga keamanan pangan adalah dengan meningkatkan umur simpan dari komoditas pangan. Wakil Ketua Badan Riset dan Inovasi Nasional Amarulla Octavian mengatakan strategi meningkatkan umur simpan adalah mengurangi food loss terutama pada beras, jagung, gula konsumsi, kedelai, cabai, bawang, telur, daging ruminansia, dan daging unggas.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait