Bekatul: Ingridien Pangan Potensial


Oleh Ardiansyah
Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Bakrie

Bekatul merupakan hasil samping dari proses penggilingan/ penyosohan beras pecah kulit menjadi beras sosoh. Pada Gambar 1, disajikan bagian-bagian padi, di mana bekatul merupakan salah satu produk yang dihasilkan. Proses penggilingan padi menghasilkan produk utama berupa beras sosoh (70-72%) dengan produk samping seperti berupa sekam (rice husk) (18-20%), dan bekatul (rice bran) (8-10%). Pada tulisan ini disajikan potensi bekatul fermentasi sebagai ingridien pangan.

Salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah bekatul agar dapat digunakan sebagai ingridien pangan adalah dengan proses fermentasi menggunakan metode solid-state fermentation (SSF). Mikroba kapang cocok digunakan dalam SSF, karena kapang mampu menghasilkan enzim seperti seperti amilase, pektinase, silanase, selulase, kitinase, protease, lipase, dan β-galaktosidase. Pada Tabel 1, disajikan pengaruh fermentasi dalam meningkatkan kandungan senyawa bioaktif pada bekatul. Proses fermentasi juga merupakan cara yang efektif dalam menurunkan asam fitat yang terdapat pada bekatul hingga mencapai 50% pada pH optimal (4,5-6.0). Proses degradasi ini dikatalisis oleh enzim fitase, di mana enzim ini diproduksi oleh beberapa kapang dan jamur seperti Aspergillus sp., Mucor sp., Rhizopus sp., dan Penicillium sp.

Peningkatan senyawa fenolik setelah proses fermentasi karena terjadi pemecahan senyawa kompleks yang berikatan dengan lignoselulosa atau polisakarida (Oliveira et al., 2012). Selama proses fermentasi, mikroba menghasilkan enzim yang dapat menghidrolisis senyawa bioaktif kompleks menjadi senyawa bioaktif dalam bentuk bebas (Oliveira et al., 2012) sehingga dapat meningkatkan aktivitas antioksidannya.

Senyawa volatil bekatul fermentasi
Identifikasi senyawa volatil pada bekatul menggunakan headspace solid phase microextraction (HS-SPME) yang dihubungkan dengan gas chromatography-olfactometry-mass spectrometry (GC-MS/O) (Astuti et al., 2022). Penelitian kami mengidentifikasi 92 senyawa volatil pada bekatul fermentasi (BF) dan bekatul tanpa fermentasi (BTF). Diantaranya 76 teridentifikasi pada BF, yang terdiri dari 17 ester, 10 alkohol, 8 asam, 8 aldehida, 8 keton, 8 hidrokarbon, 4 fenol, 4 terpen 1 benzena, 2 furan, 2 pirazin, 2 lakton, 1 piridin dan 1 tiazol. Sedangkan 67 senyawa volatil yang teridentifikasi pada BTF, mencakup 12 aldehida, 11 hidrokarbon, 9 asam, 8 alkohol, 8 keton, 4 fenol, 4 ester, 3 terpen, 1 benzena, 2 furan, 2 tiazol, 2 lakton dan 1 piridin.

Analisis menggunakan principal component analysis (PCA) menunjukkan keberadaan senyawa volatil BF, BTF, dan kombinasi keduanya (Gambar 2).

Terlihat jelas, senyawa volatil BF terletak pada posisi kuadran yang berbeda dengan BTF, di mana setiap sampel bekatul yang berada di kuadran yang sama saling berkorelasi. Artinya senyawa volatil BF memiliki karakteristik yang berbeda dengan BTF, proses fermentasi dapat mempengaruhi produksi senyawa volatil yang dihasilkan.

 

Senyawa non-volatil bekatul fermentasi

Bekatul memiliki sejumlah senyawa yang terdiri dari asam amino, vitamin, kofaktor, dan metabolit sekunder. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perlakuan fermentasi memengaruhi jumlah senyawa dan diversitas senyawa pada bekatul. Kami telah menganalisis senyawa non volatil dilakukan dengan menggunakan instrumen ultra-high performance liquid chromatography-MS/MS (UPLC-MS/ MS) dan spektrometri masa electrospray ionization (ESI) pada mode ion positif (Ardiansyah et al., 2021). Data yang didapat kemudian diinterpretasi menggunakan aplikasi Masslynx 4.1 dan situs MassBank. Terdapat 72 senyawa yang teridentifikasi dan dikategorikan kedalam metabolit sekunder (̴ 50%), lipida (̴ 22%), asam amino (̴ 11%), vitamin dan kofaktor (̴ 10%), peptida (̴ 4%), nukleotida (̴ 1%), dan karbohidrat (̴ 1%) (Gambar 3).

Profil aroma bekatul fermentasi dan tanpa fermentasi

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait