Reformulasi Minuman: Inovasi berbasis Ingridien Fungsional Indonesia


Oleh Hilman Maulana
Pusat Penelitian Teh dan Kina

Diskusi mengenai reformulasi minuman berpemanis sering mengacu pada laporan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO) tahun 2022 yang mengulas dampak kesehatan dari Pemanis NonGula (Non-Sugar Sweeteners/NSS) (Rios-Leyvraz and Montez, 2022). 

Laporan ini merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis dari 283 penelitian terhadap dampak NSS terhadap kesehatan metabolik, kardiovaskular, dan onkologis. Tinjauan tersebut menunjukkan bahwa NSS bukanlah solusi yang aman atau efektif dalam jangka panjang untuk mengelola obesitas dan penyakit metabolik. Meskipun konsumsi NSS dapat menurunkan berat badan ratarata sebesar 0,71 kg dan menurunkan BMI sebesar 0,41 kg/m² dibandingkan konsumsi gula, dan studi kohort menunjukkan peningkatan risiko obesitas (hazard ratio [HR] 1,76). Nilai HR ini mengindikasikan bahwa konsumen NSS dapat menghadapi risiko obesitas 76% lebih tinggi. Namun, karena ini merupakan studi kohort, hasilnya menunjukkan hubungan asosiasi yang kuat dan bukan hubungan sebab akibat secara langsung. 

Penelitian terhadap kasus diabetes tipe 2 pada laporan tersebut tidak menemukan efek signifikan terhadap kontrol glikemik, termasuk kadar glukosa darah, insulin, dan HbA1c. Namun, studi kohort prospektif menunjukkan peningkatan risiko 23–34% dalam mengembangkan diabetes tipe 2 di antara konsumen NSS dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsinya, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak metabolik dalam jangka panjang. Demikian pula, mortalitas semua penyebab ditemukan 12% lebih tinggi di antara konsumen NSS menurut studi kohort, yang menunjukkan kemungkinan efek kesehatan jangka panjang yang merugikan. Terkait penyakit kardiovaskular (CVD), konsumsi NSS dikaitkan dengan peningkatan risiko 19%, terutama untuk struk, hipertensi, dan kejadian kardiovaskular lainnya, meskipun RCT tidak menemukan efek signifikan pada kadar kolesterol atau tekanan darah. Beberapa studi kasus pun mengidentifikasi kemungkinan hubungan antara asupan NSS dan kanker kandung kemih (odds ratio [OR] 1,31), tetapi bukti yang ada masih lemah dan tidak meyakinkan, sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi hubungan ini. 

Selanjutnya, dampak NSS pada anak-anak dan wanita hamil, yang berdasarkan meta-analisis tersebut NSS tidak berdampak signifikan pada kenaikan berat badan atau risiko diabetes tipe 2 pada anak, serta tidak terbukti memengaruhi obesitas, kesehatan metabolik, perilaku, neurokognisi, atau preferensi rasa manis mereka. Untuk ibu hamil, penelitian terkontrol masih minim, namun studi kohort mengindikasikan peningkatan risiko kelahiran prematur (HR 1,25) akibat konsumsi NSS. Ada kemungkinan hubungan dengan obesitas anak, tetapi bukti terbatas dan belum konklusif. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menilai dampak jangka panjang NSS pada kehamilan dan perkembangan anak.

Meskipun NSS sering dipromosikan sebagai alternatif yang lebih menyehatkan dibandingkan gula, bukti yang muncul—setidaknya hingga laporan WHO tahun 2022— menunjukkan bahwa efek metabolik dan fisiologisnya mungkin tidak sebaik yang diperkirakan sebelumnya. Mekanisme biologis di balik dampak negatif ini masih belum jelas, tetapi beberapa hipotesis telah diajukan. Salah satu perhatian utama adalah gangguan pada mikrobiota usus, yang dapat menghambat metabolisme glukosa dan sensitivitas insulin, sehingga meningkatkan risiko gangguan metabolik. Faktor psikologis dan perilaku mungkin berperan, karena individu yang mengonsumsi NSS cenderung melakukan kompensasi makan, yang meningkatkan asupan kalori dari sumber lain. Masalah potensial lainnya adalah perubahan preferensi rasa manis, di mana paparan rutin terhadap NSS dapat mengubah kebiasaan makan jangka panjang dan memperkuat keinginan terhadap makanan manis, yang mengarah pada pola makan yang tidak menyehatkan.

Minuman dengan pemanis gula

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait