Antimikroba dari Kesemek: untuk Sistem Pangan yang lebih menyehatkan


Oleh Nisa Wulandari
Direktorat Hilirisasi Hasil Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian

Kesemek (Diospyros kaki ) berasal dari wilayah Tiongkok bagian selatan, dan saat ini banyak dibudidayakan di Tiongkok, Korea, dan Jepang (Akagi et al ., 2011). Spesies Diospyros kaki merupakan jenis yang paling umum dikonsumsi dan memiliki banyak kultivar, yang diklasifikasikan berdasarkan rasa dan kandungan taninnya. Selain nilai hortikulturanya, variasi kandungan tanin antarkultivar kesemek menjadi dasar penting bagi pemanfaatannya sebagai sumber senyawa antimikroba alami dalam pengembangan sistem pangan yang lebih menyehatkan.

Secara umum, kesemek terbagi menjadi dua kelompok utama (Chang et al., 2019; Tessmer et al., 2016):

  1. Kesemek non-astringent: Tidak sepat saat belum matang, bisa langsung dikonsumsi. Contoh kultivar: Diospyros kaki cv. Fuyu and D. kaki cv. Amahyakume
  2. Kesemek astringent: Mengandung banyak tanin larut (sepat), sehingga harus diproses terlebih dahulu agar layak konsumsi. Contoh kultivar: D. kaki cv. Cheongdo-Bansi, D. kaki cv. Hachiya, dan D. japonica.

Saat ini, kesemek merupakan komoditas hortikultura khas dataran tinggi yang tersebar di berbagai wilayah Pulau Jawa di Indonesia, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di Provinsi Jawa Timur, sentra produksi kesemek terkonsentrasi di daerah Magetan, Tirtoyudo (Kabupaten Malang), serta Kota Batu—yang selama ini dikenal sebagai kawasan dengan agroklimat ideal untuk budidaya buah tersebut. Di Indonesia, kesemek yang beredar di pasaran umumnya berasal dari tipe astringent, yaitu jenis buah yang tidak bisa langsung dikonsumsi dalam keadaan segar karena mengandung tannin dalam kadar tinggi. Kandungan inilah yang menyebabkan rasa sepat atau kesat saat dimakan. Untuk mengurangi rasa sepat tersebut, diperlukan proses pemeraman atau perlakuan khusus lainnya agar buah menjadi layak konsumsi dan terasa manis secara alami.

Di balik karakteristiknya yang khas, kesemek menyimpan potensi besar sebagai sumber senyawa bioaktif alami, terutama tanin, yang memiliki aktivitas antimikroba. Dalam beberapa tahun terakhir, kesemek mulai menarik perhatian peneliti karena profil senyawa alaminya yang menjanjikan. Potensi ini membuka peluang pemanfaatan kesemek tidak hanya sebagai buah konsumsi, tetapi juga sebagai bahan aktif alami yang berkontribusi dalam sistem keamanan pangan modern, khususnya dalam pengembangan pangan fungsional berbasis tanaman lokal.

Antimikroba alami
Dalam industri pangan, bahan tambahan kimia seperti antimikroba sintetis telah lama digunakan untuk mengendalikan patogen bawaan pangan. Beberapa senyawa yang umum digunakan antara lain nitrit dan nitrat, natrium benzoat, propionat, sulfit, kalium sorbat, asam sorbat, nisin, natamisin, kalium laktat, serta berbagai asam organik seperti asam askorbat, sitrat, dan tartarat (Gutiérrez del-Río et al., 2018; Pisoschi et al., 2018). Namun demikian, sejumlah senyawa antimikroba sintetis diketahui dapat menimbulkan risiko kesehatan, termasuk reaksi alergi pada individu yang sensitif (Pisoschi et al., 2018). Selain itu, penggunaannya juga dapat mengurangi nilai gizi pangan—seperti halnya sulfit yang dapat menyebabkan degradasi vitamin B1 (tiamin) (Gutiérrez del-Río et al., 2018).

Sebagai respons terhadap tantangan ini, berbagai alternatif antimikroba alami kini mulai dikembangkan. Seiring meningkatnya minat industri terhadap pengawet alami, ekstrak tanaman menjadi salah satu pilihan utama karena sifatnya yang mudah terurai, aman secara nutrisi, dan dapat diaplikasikan langsung ke dalam makanan (Villalobos- Delgado et al., 2019). Dalam konteks ini, buah kesemek (Diospyros kaki) muncul sebagai kandidat potensial karena kandungan senyawa bioaktifnya yang kaya serta aktivitas antimikroba yang telah dilaporkan dalam berbagai studi eksperimental (Gambar 1).

Beberapa studi menunjukkan bahwa kesemek, khususnya dari jenis astringent seperti Diospyros kaki cv. Gyeongsanbanshi, memiliki aktivitas antibakteri yang signifikan. Penelitian oleh Heo et al. (2009) menunjukkan bahwa ekstrak kesemek mampu menghambat pertumbuhan berbagai bakteri patogen seperti Bacillus cereus, Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan S. mutans.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait